Minggu, 24 Oktober 2021 Portal Berita Entrepreneur

Kebohongan Elizabeth Holmes Perlahan Terbongkar, Bikin Bergidik Ngeri, Seperti di Film-film!

Foto Berita Kebohongan Elizabeth Holmes Perlahan Terbongkar, Bikin Bergidik Ngeri, Seperti di Film-film!
WE Entrepreneur, Jakarta -

Kebohongan Elizabeth Holmes, sang mantan miliarder wanita termuda di dunia perlahan terbongkar. Saat Theranos merugi hampir USD2 juta (Rp28,5 miliar) per minggu, investor di perusahaan pengujian darah itu pun diberi tahu bahwa perusahaan akan segera menghasilkan hampir USD1 miliar (Rp14,2 triliun) per tahun.

Tetapi ternyata tidak demikian. Awalnya, para investor menganggap wajar perusahaan rintisan untuk kehilangan uang di tahun-tahun awal mereka, dan bukan hal yang aneh jika laju pembakaran cepat terjadi tepat sebelum keadaan berbalik. Namun, Theranos justru terus menghasilkan kerugian yang meningkat.

Baca Juga: Elizabeth Holmes Diserang Jaksa Habis-Habisan, Dijuluki Tukang Tipu hinggu Cari Uang untuk Ketenaran

Dilansir dari Ars Technica di Jakarta, Jumat (17/9/21) pada pengadilan kemarin, juri mendengar kesaksian dari kepala keuangan lama perusahaan, Danise Yam. Yam mengatakan bahwa Theranos kehilangan USD16,2 juta (Rp231 miliar) pada tahun 2010, USD27,2 juta (Rp388 miliar) pada tahun 2011, USD57 juta (Rp813 miliar) pada tahun 2012, dan USD92 juta (Rp1,3 triliun) pada tahun 2013.

Ada minggu-minggu di mana perusahaan membakar sekitar USD2 juta per minggu, dan tidak ada pendapatan untuk memperbaiki kerugian. Pada 2012 dan 2013, Yam bahkan sama sekali tidak menambahkan garis pendapatan karena tidak ada.

Setelah mengajukan pertanyaan tentang kerugian Theranos yang terus berlanjut dan kurangnya pendapatan, jaksa menunjukkan laporan pendapatan yang dibagikan kepada investor. Tertulis bahwa ada pendapatan USD140 juta pada tahun 2014 dan USD990 juta pada tahun 2015. Yam mengatakan dia belum pernah melihat dokumen itu sebelumnya, dia juga tidak tahu dari mana angka-angka itu berasal.

Saksi berikutnya adalah Erika Cheung, yang dipekerjakan oleh Theranos sebagai rekan lab. Cheung mengatakan dia bergabung dengan perusahaan sebagian besar karena kekuatan bintang dari CEO-nya.

“Dia memiliki karisma dalam dirinya; dia sangat pandai bicara,” kata Cheung tentang Holmes. “Dia memiliki keyakinan yang kuat terhadap misinya.”

Cheung berhenti setelah tujuh bulan bekerja karena menemukan keganjilan dan langsung mengajukan pengaduan pelapor ke Centers for Medicare and Medicaid Services. Dalam laporan itu, Cheung menuduh perusahaan menggunakan persediaan laboratorium yang kadaluwarsa untuk pengujian yang dijalankan pada perangkat pengujian "Edison" miliknya.

Dia pertama kali khawatir soal mesin Theranos ketika dia menggunakan untuk menguji darahnya sendiri.

“Karyawan pada dasarnya akan menyumbangkan darah mereka ke Theranos untuk mendapatkan uang tunai,” kata Cheung.

Namun, saat memeriksa kinerja Edison pada tes vitamin D, akan selalu muncul bahwa kekurangan. Namun, ketika menjalankan tes pada perusahaan lain, vitamin D-nya tampak normal.

Inspektur dari pemerintah yang tiba di Theranos karena surat Cheung menemukan kondisi yang serupa dengan yang ada dalam pengaduan. Mereka mengusulkan pencabutan izin perusahaan untuk menguji spesimen manusia. Theranos akhirnya menyelesaikan masalah itu dengan secara sukarela menutup semua labnya.

Setelah itu, Theranos menyewa seorang detektif swasta untuk memata-matai Cheung. Perusahaan menghabiskan lebih dari USD150.000 (Rp2,13 miliar) untuk mengawasinya dan pelapor lainnya.

Tag: Elizabeth Holmes, miliarder

Penulis/Editor: Fajria Anindya Utami

Foto: CNBC.com