Selasa, 05 Maret 2024 Portal Berita Entrepreneur

Strategi CEO Restock 100% Lolos dengan Kredit Lancar & Tetap Jalankan Inovasinya

Foto Berita Strategi CEO Restock 100% Lolos dengan Kredit Lancar & Tetap Jalankan Inovasinya
WE Entrepreneur, Jakarta -

CEO Restock Tiar Nabilla Karbala menceritakan strateginya bisa lolos dengan kredit lancar sebesar 100% dari daftar fintech lending yang mengalami kredit macet yang dikeluarkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Baru-baru ini, Tiar juga menceritakan rencananya membuka dua gudang di Bandung dan menjalankan inovasi sistem terintegrasi dengan Revota. Bagaimana detailnya? 

Ditemui Warta Ekonomi secara langsung di acara UMKM Digital Summit 2023 yang dihelat oleh Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) di Smesco Convention Hall, Jakarta pada Kamis (21/9/2023), berikut wawancara lengkapnya. 

Baca Juga: Buat Liburan Makin Untung, PermataBank Beri Segudang Kemudahan untuk Nasabah dengan AirAsia Cards

Restock sempat membuka gudang 1.400 meter untuk UMKM, sampai saat ini bagaimana perjalanannya?

Oh iya, jadi memang Restock itu kan berdiri tahun 2019, bulan September ya, kami di bisnis peer-to-peer (P2P) lending. Dan bisa dikatakan, kami baru mulai bisnis pergudangan itu di bulan Desember 2022. Tapi bukan di bisnis peer-to-peer, tapi kami memang ada entitas baru yang memang fokusnya di bisnis pergudangan. 

Kenapa kami mau buat bisnis pergudangan? Karena kami melihat di pasaran, banyak banget klien-klien kami yang membutuhkan servis pergudangan. Karena kan kami banyak melayani bisnis retail, kami banyak fokus di bisnis fashion retail nih. Kalau fashion retail itu kan, kebayang enggak sih, fashion kan pasti banyak inventory-nya. Anggaplah misalkan jualan kaus, celana, baju, jaket, barang-barang kayak begitulah. Itu kan inventory-nya gede-gede kan, mereka banyak butuh gudang sebenarnya. 

Maka dari itu, bagaimana cara kami mau melayani mereka, kami mau jadi all-in, seperti one stop solution buat mereka. Maka dari itu kami membantu mereka juga dari sisi pergudangan.

Ini sudah masuk paruh tahun kedua 2023, apa saja inovasi yang sedang Restock jalankan? 

Jadi kurang lebih kita itu tahun lalu, kami Restock Group mengakuisisi satu perusahaan IT dari Bandung, namanya Revota, kami akuisisi Revota pada bulan Juli 2022. Revota itu adalah sebuah sistem IT yang basisnya di Bandung, klien-kliennya adalah fashion retail seluruh Indonesia. Jadi kebayang kalau misalkan Anda pernah datang ke distro-distro di daerah Jabodetabek, Bandung, dan kawan-kawan, mereka tuh pakai sistem yang rata-rata dengan sistemnya Revota. 

Nah, inovasi yang akan kami lakukan adalah kami akan membentuk sebuah sistem mereka menjadi sistem online. Jadi yang tadinya sistemnya offline, sistem kasir, sistem POS, kami akan membentuk sistem mereka menjadi online, kami akan bawa mereka online, dan sistem itu akan kami gabungkan dengan sistem pendanaan yang Restock miliki. 

Ibaratnya kami menyediakan mereka itu mesin POS, mesin kasirnya, dan sistem kreditnya juga. Jadi kita seperti sistemnya Revota, kami berikan juga pendanaan dari Restock. Kami ingin melakukan integrasi di situ.

Jadi nanti ke depannya kalau sudah bekerja sama dengan Restock Group, enaknya menjadi klien Restock itu adalah, misalkan bekerja sama Restock Group, Anda pakai sistemnya Revota, sudah dapet kredit dari Restock Group, terus nanti mendapatkan layanan gudang juga dari gudang Restock. 

Sekarang, sudah berapa nilai pembiayaan yang disalurkan dan berapa UMKM yang menerima pendanaan Restock? 

Jadi kan kami melakukan pendanaan dari empat tahun lalu, berarti kami bergerak empat tahun lalu. Total pendanaan yang sudah kami salurkan itu, kalau saya enggak salah sekitar Rp2,4 triliun, dan tahun ini sudah sekitar Rp680 miliar lah kurang lebih.

Baru-baru ini OJK mengeluarkan daftar pinjaman online (pinjol) yang terkena kredit macet, apa strategi Restock selamat dari itu? 

Jadi memang alhamdulillah Restock itu. Kita semua kan kalau di P2P lending, indikatornya TKB90, TKB90 kami alhamdulillah 100%, artinya kredit kami alhamdulillah masih lancar semuanya. 

Baca Juga: Perjalanan Karier Kilala Tilaar: Dari Kuli Gudang, Kini Jabat CEO Martha Tilaar Group

Bagaimana cara kami menjaga? Karena kami memiliki mitigasi resiko yang sangat ketatlah. Jadi rejection rate kami itu cukup tinggi, kami cukup banyak menolak calon-calon peminjam (borrower). Karena memang secara market statement, kami sudah dari awal menyatakan bahwa, kami mau hanya melayani pasar-pasar yang sudah familiar saja, jadi kami itu memang fokusnya banyak di fashion retail

Kenapa kami mau serve di fashion retail? Karena Indonesia itu kan masyarakatnya konsumtif banget ya, suka belanja baju kan, tahu sendiri lah. Indonesia itu GDP-nya gede, mayoritas kontribusi GDP itu kan dari konsumsi.  Jadi orang Indonesia suka banget belanja lah intinya, apalagi belanja fashion, apalagi kalau belanjanya online, sekarang kan sudah ada beberapa online marketplace, itu kan udah gila-gilaan banget kan.

Jadi memang ya sudah kami mau melayani pasar yang memang kami sudah familiar. Maka dari itu, kami benar-benar menjaga pasar kami di situ-situ saja. Walaupun kami mau membuka jenis pasar baru, kami menjaga untuk enggak terlalu benar-benar masif membuka new market-nya.

Baca Juga: Perluas Penyaluran Kredit UMKM, Bank Mandiri Teken Kerja Sama dengan FishLog

AI ini masih hype dibicarakan, bagaimana Restock menghubungkan UMKM untuk bisa relevan dengan teknologi tersebut? Adakah edukasi untuk mereka? 

Sejauh ini sih kami enggak menggunakan teknologi AI. Jadi cara kami memandu brand owner atau komunitas lokal itu, benar-benar menggunakan cara-cara yang old school. Jadi jujur saya enggak begitu percaya dengan teknologi AI begitu. 

Tapi Anda tahu lah, misalkan kayak orang-orang Jawa Barat, orang-orang Sunda begitu kan, mereka lebih suka ngariung begitu ya, lebih suka ngumpul-ngumpul sambil merokok dan ngopi begitu kan dibandingin pake teknologi AI. 

Setelah menggantikan CEO sebelumnya, bagaimana Anda membawa Restock bangkit dan bertahan sampai sekarang? 

Bisnis fintech itu kan adalah bisnis kepercayaan, jadi sebenarnya kunci dari bisnis ini membangun kepercayaan terhadap key stakeholder, begitu. 

Jadi hari pertama ketika saya menjabat, saya langsung melakukan komunikasi ke OJK, dengan orang-orang penting yang memang langsung berhubungan dengan Restock. Pokoknya langsung menghubungi OJK, AFPI, pemberi pinjaman (lender) yang memang kerja sama dengan kami.

Jadi bagaimana caranya bisa membuat mereka itu tetap nyaman berbisnis dengan kami, tetap nyaman, dan tetap mereka melihat kami itu sebenarnya, yaudah Restock itu fine-fine aja kok, yaudah sebenarnya memang enggak ada apa-apa gitu loh. Bahkan kemarin pas sempat ramai pun ya, sebenarnya bisnis kami enggak ada masalah sama sekali, itu bisnis as usual semua ya gitu.

Pesan penutup untuk pemain fintech lending untuk UMKM di tengah kondisi yang tidak pasti ini? 

Kalau dari saya pribadi, saya menjalankan bisnis, kami melihat dari sisi akuntabilitas atau accountable, profitabilitas, dan keberlanjutannya begitu. Jadi bagaimana caranya kami membuat bisnis yang tahan lama, accountable, dan profit. Sebenarnya begitu sih.

Kami menjalankan bisnis ini, enggak benar-benar mengejar pertumbuhan pesat, kami enggak incar hyper growth yang kami harus punya 1 juta akun, harus incar disbursement Rp10 triliun, dan kawan-kawan, kami enggak mengejar ke situ.

Kami yang penting istilahnya, tidur enak, makan enak, kerja enak, itu saja sebenarnya, kuncinya di situ sebenarnya, enggak perlu lah mengejar Rp100 triliun, buat apa gitu loh

Baca Juga: Dukung Upaya Ekspansi, BCA Injeksi Kredit Senilai Rp1 Triliun untuk Anak Usaha Trans Power Marine

Dan tetap di samping itu, kami ingin membantu untuk mengejar misi OJK dan pemerintah untuk inklusi keuangan.

Tag: Start-up, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Bisnis, Kredit

Penulis: Nadia Khadijah Putri

Editor: Aldi Ginastiar

Foto: Nadia Khadijah Putri