Selasa, 13 April 2021 Portal Berita Entrepreneur

Kisah Orang Terkaya: Jan Koum, Miliarder Pendiri WhatsApp yang Telah Lama 'Hilang'

Foto Berita Kisah Orang Terkaya: Jan Koum, Miliarder Pendiri WhatsApp yang Telah Lama 'Hilang'
WE Entrepreneur, Jakarta -

Salah satu orang terkaya dunia, Jan Koum, terkenal berkat menciptakan aplikasi perpesanan WhatsApp. Pria yang dilahirkan pada tanggal 24 februari 1976 merupakan imigran berdarah Ukraina. Koum juga berasal dari keluarga Yahudi yang saat tinggal di daerah bernama Fastiv bagian Kiev, Ukraina, pasikan listrik sangat terbatas. Bahkan, ia harus antre mandi pemandian umum.

Hingga akhirnya pada tahun 1990, Jan Koum dan keluarga memutuskan pindah ke Amerika Serikat (AS) karena semakin tingginya gejolak politik serta meningkatnya gerakan anti Yahudi.

Saat itu, Koum masih berusia 16 tahun dan mereka tinggal di wilayah Mountain View, Amerika Serikat. Ia hanya tinggal dengan ibu dan neneknya, sementara sang ayah yang mengatakan akan menyusul, meninggal dunia pada tahun 1997 saat masih di Ukraina.

Baca Juga: Kisah Orang Terkaya: Gordon Moore, Ilmuwan yang Dirikan Intel Corporation

Kemudian, Koum dan ibunya berjuang keras untuk bertahan hidup di Amerika. Ibunya bekerja sebagai pengasuh anak, dan Koum menjadi penyapu toko. Namun, hidup mereka masih sangat kekurangan. Bahkan, untuk makan sehari-hari, ia makan dengan mengandalkan jatah makanan gratis dari pemerintah untuk para tunawisma atau gelandangan.

Pahitnya hidup sudah dirasakan oleh Kaum sejak usia muda. Ia pernah tidur di tempat beralaskan tanah, segala pekerjaan juga ia lakoni saat pindah ke Amerika. Untungnya, Koum sudah pintar berbahasa Inggris, sehingga ia mudah masuk sekolah.

Koum juga belajar komputer secara otodidak. Ia menyukasi pemrograman komputer yang ia pelajari melalaui buku-buku bekas. Ia bahkan bergabung dengan grub hacker yang dikenal dengan nama w00w00 ketika di sekolah.

Setelah lulus dari sekolah, Koum berkuliah di San Jose University. Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya kuliahnya, Koum kemudian bekerja sebagai penguji sistem keamanan komputer di Ernst & Young.

Hingga pada tahun 1997, ia pun pertama kalil bertemu Brian Acton, yang kelak akan membantunya mendirikan WhatsApp. Saat itu, Acton merupakan pegawai Yahoo. Karena Koum sudah belajar mengenai jaringan komputer secara otodidak, akhirnya Koum melamar ke Yahoo dan diterima.

Namun, pada tahun 2000, ibu Koum meninggal karena kanker. Koum pun hanya hidup dengan neneknya. Meski demikian, ia tetap semangat bekerja dan menyaksikan sendiri bagaimana Yahoo jatuh-bangun. Adapun posisi Koum saat itu adalah sebagai programmer dan menangani proyek periklanan di Yahoo.

Sayangnya, demi bekerja, Koum harus putus kuliah. Hingga pada tahun 2007, Koum dan Acton memutuskan mundur dari Yahoo. Setelahnya, mereka pun memutuskan untuk berlibur dan berwisata.

Hingga pada tahun 2009, Koum dan Acton melamar ke Facebook tetapi ditolak oleh Mark Zuckerberg. Akhirnya, mereka pun mendirikan WhatsApp berawal dari ide melihat kumpulan kontak di ponsel iPhone yang sedang tenar beserta App Store.

Koum melihat potensi besar ini karena itu ia menciptakan aplikasi yang dapat menampilkan status pada kontak telepon di iPhone. Ide itulah yang kemudian mendorong Koum menciptakan WhatsApp.

Saat itu, Koum memiliki teman yang Alex Fishman dan kemudian ia menceritakan ide tersebut kepadanya. Lalu, Fishman kemudian memperkenalkan Jan Koum dengan Igor Solomennikov seorang developer aplikasi iPhone.

Dari perkenalan itu, Koum pun berhasil menciptakan WhatsApp dan mendirikan perusahaan WhatsApp Inc yang berbasis di California pada bulan Februari 2009. Koum banyak menghabiskan waktunya dengan mengembangkan aplikasi ciptaannya tersebut.

Saat diluncurkan, WhatsApp masih memiliki banyak kekurangan. Bahkan, aplikasi tersebut hanya diunduh 250 orang saja. Koum sendiri hampir menyerah hingga akhirnya Apple membantu push notifications pada tahun 2009 dan WhatsApp pun digemari pengguna.

Sayangnya, setelah bereksperimen memakai WhatsApp harus berbayar, jumlah download menurun.

"Kami tumbuh cepat ketika gratis, 10 ribu download per hari. Dan ketika kami memberlakukan pembayaran, mulai menurun sampai hanya seribu per hari," kisah Acton.

Akhirnya, pengguna cukup membayar satu kali dalam satu tahun. Hingga WhatsApp pun semakin populer dan para pemodal berebut untuk berinvestasi. Lalu, pada tahun 2014, WhatsApp diakuisisi Facebook pada tahun 2014 senilai USD19 miliar.

Acton dan Koum pun kaya raya dan sempat beberapa tahun gabung di Facebook untuk memimpin WhatsApp. Sayangnya, karena perbedaan visi dengan Mark Zuckerberg, keduanya memutuskan resign dengan drama yang cukup menghebohkan.

Acton resign pada akhir 2017, kemudian Koum resign pada pertengahan 2018. Hal ini karena Acton dan Koum anti iklan, sementara Mark Zuckerberg terancam dirasuki iklan setelah Facebook membelinya. Meski Acton marah besar,n amun Koum mundur dengan baik-baik.

"Aku mengambil waktu istirahat untuk melakukan hal-hal yang aku senangi di luar teknologi, misalnya mengkoleksi Porsche langka, mengutak atik mobil dan bermain frisbee. Dan aku masih akan bersorak untuk WhatsApp, dari sisi luar," begitu pesan perpisahannya.

Semenjak pensiun, Koum seakan 'menghilang' dari publik. Dia jarang sekali muncul di media. Meski demikian, aktivitasnya saat ini adalah hobi membeli rumah atau mobil mewah. Mungkin saat ini, Koum sedang menikmati hasil jerih parahnya.

Dari kesuksesan WhatsApp itulah, kekayaan Koum menurut Forbes di kisaran USD10,1 miliar (Rp141 triliun). Koum dikabarkan memiliki banyak rumah mewah.

Tag: Jan Koum, WhatsApp Messenger, Kisah Orang Terkaya

Penulis/Editor: Fajria Anindya Utami

Foto: Business Insider