Senin, 21 September 2020 Portal Berita Entrepreneur

Lulus Sekolah di Tengah Pandemi, Mau Kerja atau Buka Usaha?

Foto Berita Lulus Sekolah di Tengah Pandemi, Mau Kerja atau Buka Usaha?
WE Entrepreneur, Jakarta -

Survei dari Standard Chartered (StanChart) mendapati bahwa secara global, milenial dan generasi Z lebih mungkin merespons krisis akibat pandemi Covid-19 dengan memulai bisnis baru.

Dengan banyaknya siswa yang lulus atau meninggalkan sekolah di tengah resesi global, generasi muda lebih bersedia atau mampu untuk beradaptasi dengan keadaan saat ini.

"Bila dibandingkan rata-rata global (46%), orang Indonesia (80% di usia 18-44, dan 77% di usia di atas 45 tahun), jauh lebih cenderung mempertimbangkan membuka usaha baru untuk meningkatkan pendapatan," tulis survei tersebut yang dirilis Kamis (6/8/2020).

Baca Juga: Kantong Boleh Tipis, 85% Orang Indonesia Pede Lewati Krisis

Kemudian sebanyak 87% orang Indonesia (angka global 75%) di usia 25-34 tahun berminat untuk punya pendapatan kedua, dan 82% orang Indonesia (angka global 77%) di usia 18-44 tahun berminat belajar keterampilan baru.

Menanggapi hal ini, Ben Hung, CEO of Retail Banking, and Wealth Management and Regional CEO for Greater China & North Asia, Standard Chartered, mengatakan, orang-orang muda di seluruh dunia telah sangat terpukul oleh dampak ekonomi dari pandemi ini. Banyak dari mereka status pekerjaannya tidak aman, atau baru lulus dan dihadapkan pada kondisi pasar kerja yang sulit.

"Namun kepercayaan diri, kemampuan beradaptasi, dan kesediaan mereka untuk bekerja keras, terutama di negara-negara yang tumbuh cepat, memberikan harapan bagi pemulihan pascapandemi," paparnya.

Secara global, tingkat fleksibilitas, kemampuan beradaptasi, kepercayaan diri, dan kewirausahaan cenderung menurun seiring bertambahnya usia, meskipun juga–atau mungkin karena–generasi yang lebih tua memang lebih mapan dalam karier mereka.

Kesenjangan antargenerasi ini bahkan lebih tajam ketika membandingkan negara maju dan berkembang. Mereka yang berada di ekonomi global yang mapan tidak hanya kurang percaya diri bahwa mereka memiliki keterampilan digital yang dibutuhkan untuk berkembang di tengah-tengah kelesuan ekonomi, tetapi juga kurang bersedia beradaptasi dan mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan pendapatan mereka.

Di Indonesia, 80% orang memilih untuk bekerja lebih keras untuk dapat lebih maju, dibandingkan harus mengurangi waktu kerja dengan bayaran yang lebih sedikit. Persentasi tersebut sedikit di bawah Kenya, China Daratan, India, dan Pakistan.

Sementara itu, AS (38%) dan Inggris (39%) memiliki proporsi tertinggi orang-orang yang lebih menghargai waktu luang dibandingkan uang.

Tag: Entrepreneur

Penulis: Fajar Sulaiman

Editor: Rosmayanti

Foto: Unsplash/Hutomo Abrianto