Sabtu, 27 November 2021 Portal Berita Entrepreneur

KOL Stories x Biznis.id: Persaingan Makin Sengit, Ini Trik Menangkan Hati Konsumen

Foto Berita KOL Stories x Biznis.id: Persaingan Makin Sengit, Ini Trik Menangkan Hati Konsumen
WE Entrepreneur, Jakarta -

Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) menjadi kelompok usaha yang menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi Indonesia terlebih di kala pandemi seperti saat ini.

Pandemi Covid-19 yang menerpa menjadi pemicu masyarakat untuk berlomba-lomba membangun bisnis. Kemudian juga ditambah dengan perkembangan teknologi yang makin membuka lebar kesempatan masyarakat untuk membangun bisnis.

Baca Juga: Kol Stories X Razka Nabillian: The Power Of 'Sedekah'

Hal itu nyatanya berhasil mengakselerasi jumlah UMKM di Indonesia. Tercatat, jumlah UMKM mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hingga saat ini, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah UMKM mencapai 64 juta atau 99 persen dari keseluruhan usaha di Indonesia.

Kondisi tersebut lantas membuat UMKM menjadi kelompok usaha paling besar di Indonesia dan berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 60 persen dengan penyerapan lebih dari 90 persen tenaga kerja.

Mengingat jumlah UMKM terus melonjak, para pemilik UMKM dituntut untuk memiliki strategi pemasaran agar bisa mengembangkan UMKM. Dengan begitu, para pemilik UMKM dapat bersaing di pasar domestik hingga global. Untuk membuat bisnis UMKM berkembang, beberapa strategi pemasaran yang tepat pun harus diterapkankan demi memenangkan hati konsumen.

Lalu bagaimana cara UMKM memenangi pertempuran tersebut? Warta Ekonomi melalui program KOL Stories akan membahasnya bersama dengan Budi Isman yang merupakan Founder & CEO Biznis.id. Kali ini KOL Stories mengangkat tema Persaingan Makin Sengit, Ini Trick Menangkan Hati Konsumen yang diharapkan bisa membantu para UMKM makin berkembang.

Bagaimana Bapak melihat perkembangan UMKM di Indonesia yang pertumbuhannya kian pesat?

UMKM makin berkembang dan tumbuh setiap tahunnya, walaupun di masa pandemi ini ada yang bermasalah. Menurut saya, perkembangannya cukup bagus, tetapi masalahnya teman-teman yang ingin membangun bisnisnya lebih besar lagi harus belajar.

Ini bertujuan agar bisnisnya lebih komprehensif. UMKM tidak harus memberikan produk dengan harga yang murah saja. Kita harus bisa memberikan produk yang tepat dan solusi kepada konsumen.

Pertumbuhan UMKM ini juga makin meningkatkan kompetisi di pasar. Hal yang paling tidak terelakan adalah persaingan harga. Lalu, apakah untuk memenangkan hati konsumen para UMKM harus ikut berperang dalam persaingan harga? Jika pun harus terjun ke perang harga, bagaimanakah cara untuk memenangkan perang tersebut?

Jadi harga yang murah itu jangan dijadikan keunggulan bisnis Anda, tetapi bangunlah produk yang berkualitas dan memiliki fitur yang baik sehingga mampu menyelesaikan masalah konsumen dengan tepat. Apa bedanya kita dengan pesaing jika produknya sama saja. Bangun value dan jangan andalkan nilai yang murah.

Jika dilihat, persaingan harga menjadi batu sandungan bagi para UMKM. Kemudian, apa yang sebaiknya yang dilakukan para UMKM agar tidak terjebak di dalam persaingan harga yang tidak sehat?

Kita harus bisa membangun produk yang dibutuhkan oleh konsumen. Dibutuhkan dalam arti mencari problem di kategori bisnis tertentu, apa sih yang belum ada solusinya? Kedua, kita bisa membangun nilai-nilai emosi atau brand-nya. Jika hanya fisik saja yang kita andalkan, rentan sekali dibantah orang dengan menunjukkan produk yang harganya lebih murah.

Ciptakan value di luar dari aspek fisik tersebut. Membangun brand akan membuat bisnis kita sustainable.

Guna memenangkan hati konsumen, pelaku usaha harus menyiapkan strategi yang tepat. Bagaimana cara menyusun strategi yang tepat? Lalu, startegi seperti apa yang selayaknya diterapkan di kondisi pandemi ini?

Sebetulnya, ada 12 pertanyaan bagi teman-teman dalam membangun bisnisnya. Jadi misalnya, kategori bisnis yang ingin kita masuki masih bisa berkembang atau tidak. Salah dalam memilih kategori bisnis bisa saja membuat kita tidak berkembang. Setelah memilih kategori tersebut, coba cari siapa saja yang ada di kategori bisnis tersebut, cari celah di mana konsumen membutuhkan, tetapi belum ada solusinya.

Misalnya, produknya bagus, tetapi service-nya tidak. Selain itu, kita harus punya unique selling proposition, barulah bangun value brand kita. Terakhir, bentuk tim agar dapat menjalankan bisnis jangka panjang.

Apakah ada trik atau cara cepat yang dapat dilakukan para UMKM untuk memenangkan hati konsumen di tengah sengitnya kompetisi ini?

Bagi saya, kita harus bisa memahami konsumen itu sendiri. Konsumen itu berbeda-beda, tetapi kita akhirnya memilih konsumen mana yang akan kita layani. Ada istilah yang dikenal sebagai buying factor. Artinya, apa saja kriteria seseorang dalam memilih atau membeli suatu produk atau jasa. Itu menjadi salah satu kuncinya.

Katakanlah kita membangun bisnis fashion. Baju apa yang ingin kita jual? Kita bisa tanyakan ke konsumen yang ingin kita layani, apa saja faktor yang membuat mereka memilih baju A dan baju B. Di situlah yang dinamakan buying factor itu keluar. Jadi, memenangkan hati konsumen itu sebenarnya kita memberikan apa yang diinginkan konsumen.

Dari pandangan Anda, kesalahan apa saja yang biasanya dilakukan pebisnis pemula?

Mengasumsikan apa yang disukai oleh konsumen. Apa yang kita sukai, belum tentu konsumen suka. Selain itu, jika kita bisnis makanan, misalnya, kita mungkin sering berasumsi harus membuat produk yang enak. Enak itu wajib kalau menurut saya.

Jadi kita harus faktor yang lain sebagai pembeda dengan kompetitor. Cari produk yang berbeda dari pesaing, tetapi tetap relevan dengan konsumen.

Tag: KOL Stories, Tips Bisnis, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Budi Isman, Biznis.id

Penulis: Patrick Trusto Jati Wibowo

Editor: Puri Mei Setyaningrum

Foto: Dokumen Biznis.id