Minggu, 21 Juli 2024 Portal Berita Entrepreneur

Tips-Tips UMKM Mulai dan Bangun Bisnis Ramah Lingkungan

Foto Berita Tips-Tips UMKM Mulai dan Bangun Bisnis Ramah Lingkungan
WE Entrepreneur, Jakarta -

Bisnis ramah lingkungan yang berkelanjutan kini telah menjadi isu menarik bagi banyak pihak, mulai dari Pemerintah, masyarakat, maupun pelaku usaha sendiri. Memberikan tips bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memulai dan membangun bisnis ramah lingkungan berkelanjutan, Asisten Deputi Pengembangan Kawasan dan Rantai Pasok Kemenkop-UKM RI, Ali Alkatiri menyampaikan untuk pelaku usaha memperhatikan dari dua pendekatan utama, yaitu pendekatan secara policy dan pendekatan praktis.

Secara policy, Ali menyampaikan bahwa kita perlu senantiasa untuk berpikir secara ekosistem dari hulu dan hilirnya, di mana ujung dari semua itu akan berulang kepada upaya berkelanjutan. Mengingatkan, isu terkait dengan upaya ramah lingkungan dan berkelanjutan ini bukanlah isu segmented atau temporer saja, namun isu yang akan terus berlanjut. Ini adalah potensi yang besar mengingat rencana induk pembangunan ekonomi dan rencana induk dari riset inovasi berputar pada isu keberlanjutan ini.

"Kemudian secara praktis, kita harus kita harus senantiasa menanamkan kepedulian bahwa denagn produk ramah lingkungan maka akan mendatangkan banyak manfaat. Bukan hanya kepada diri sendiri tapi juga pada keberlanjutan hidup. Jadi pribadi maupun makhluk hidup lainnya. Kemudian kita menyadarkan pada pelaku supaya mulai memproduksi barang dengan bahan baku ramah lingkungan," tutur Ali dalam acara konferensi pers peluncuran gerakan Tokopedia Hijau pada Rabu (14/12/2022).

Baca Juga: Tantangan UMKM Indonesia dalam Membangun Ekosistem Bisnis yang Berkelanjutan

Selanjutnya, Ali menjelaskan bahwa hal yang perlu diperhatikan oleh para pelaku UMKM dalam memulai dan membangun bisnis ramah lingkungan adalah dengan menghasilkan limbah seminimal mungkin. Jika menghasilkan limbah atau bisa disebut sebagai by-product bisa dimanfaatkan kembali untuk dijadikan sebagai source dan resource untuk menghasilkan produk lain, karena aspek berkelanjutan berarti pengelolaan dari by-product ini. Bagaimanapun, kunci utamanya adalah kepedulian terhadap semuanya.

Menambahkan tips yang disampaikan oleh Ali, Dwi Indra P selaku pendiri dari The Local Enabler yang juga merupakan mitra dalam gerakan Tokopedia Hijau menyampaikan tips pertama dalam membangun "Bisnis Lestari" adalah dengan menggunakan lima pilar penting yang juga diperkenalkan dalam Tokopedia Hijau sebagai GUSTI, atau singkatan dari Gesit digital, Untung, Sirkuler, Tahan banting, dan Inklusif. Kemudian yang kedua adalah dengan fokus pada 4P atau Purpose, People, Planet, Profit.

Kemudian Dwi mengatakan, "kita tidak bisa bergerak sendiri, yang dilakukan tidak hanya kolaborasi, di era digital ini ada yang namanya radical collaboration, jadi benar-benar kolaborasi yang tidak nyambung sekalipun kita jadi nyambung. Jadi jangan lupa untuk gabung ke ekosistem walaupun tidak nyambung secara produk karena itu akan mengakselerasi ke depan ke arah sana."

Dari sisi pemilik bisnis yang merupakan UMKM ramah lingkungan, Stephannie Thian selaku pemilik usaha TISOO menyampaikan, "untuk teman-teman UMKM yang lain, tips yang bisa aku kasih itu basis dari TISOO sendiri. Kita berorientasi solusi, jadi sebisa mungkin kami memberikan solusi kepada sebuah permasalahan dan itu mungkin bisa menjadi suatu purpose untuk teman UMKM yang lain. Jadi apa produk atau jasa yang kita tawarkan itu berorientasi solusi dan memberikan sebuah nilai kepada konsumen di luar sana."

"Kita juga harus mau belajar mulai dari kita sebagai seller, sebagai pemilik usaha kita juga harus mau belajar tentang basic-basic namanya mengembangkan bisnis ramah lingkungan yang berkelanjutan, mulai juga belajar soal material, soal kemasan, untuk cara memberi kembali sistem kita seperti kegiatan sosial, kegiatan lingkungan," tambah Stephannie.

Tidak hanya itu, ia pun menganggap bahwa kolaborasi adalah hal yang penting karena dengan berkolaborasi bersama maka dampak yang bisa diberikan menjadi lebih signifikan. Ini juga merupakan poin yang disetujui oleh Melie Indarto selaku pemilik usaha KaIND yang juga merupakan UMKM ramah lingkungan yang bergerak di bidang fashion. Selain kolaborasi, Melie juga menambahkan tips lain yang bisa dilakukan oleh para pemilik bisnis.

"Aku mungkin karena background-nya di dunia fashion, kita sebagai owner bisnis yang bergerak di bidang fashion harus lebih memperhatikan sebisa mungkin kita meminimalisasi penggunaan plastik. Bukan sekedar plastik di bungkusnya saja atau di kemasannya, tapi seluruh komponennya. Misalnya kita perlu label baju, label baju kita pakai bahannya yang nonplastik, atau dalam memasang brand tag. Sebisa mungkin kita sebagai owner sebuah brand sebisa mungkin kita meminimalisasi penggunaan plastik dalam semua proses produksi," ujar Melie.

Menambahkan tips yang diberikan, Melie menyebut, "selanjutnya adalah meminimalisasi limbah. Limbah itu sebenarnya ada peluang ekonomi tersendiri, kalau di kain kita juga menerapkan prinsip zero waste. Zero waste ini kita menggunakan limbah kain, sisa potongan atau kain perca untuk menjadi produk turunan, kita upcycling, kita menaikkan nilai value dari limbah itu, jadi produk fashion lain dengan harga yang tidak jauh beda dengan produk utama yang kami jual. Jadi dengan kita mengolah limbah, kita bisa menghasilkan produk kreatif lainnya yang value-nya bisa sama dengan produk utama."

Tag: Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop-UKM), Tokopedia

Penulis: Tri Nurdianti

Editor: Rosmayanti

Foto: Tri Nurdianti