Senin, 14 Juni 2021 Portal Berita Entrepreneur

Begini Perjuangan William Tanuwijaya, Mantan Penjaga Warnet yang Sukses Dirikan Tokopedia

Foto Berita Begini Perjuangan William Tanuwijaya, Mantan Penjaga Warnet yang Sukses Dirikan Tokopedia
WE Entrepreneur, Jakarta -

Startup Gojek dan Tokopedia yang merger menjadi GoTo tengah menjadi sorotan. Tokopedia yang terkenal sebagai marketplace terkemudia di Indonesia, bersama startup raide-hailing Gojek disinyalir akan menjadi Big Tech kebanggaan bangsa.

Tokopedia sendiri tak terlepas dari pendirinya, William Tanuwijaya. Pada tahun 2020 lalu, Tokopedia mendapat guyuran dana dari Alibaba sebesar Rp14,7 triliun.

William Tanuwijaya sendiri merupakan anak rantau yang lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara pada 11 November 1981. Ia adalah anak dari keluarga yang sederhana, bahkan keluarganya tak memiliki latar belakang wirausaha.

Baca Juga: Sah! Gojek-Tokopedia Resmi Merger Jadi GoTo

Usai lulus SMA pada tahun 1999, William bersama ayah dan pamannya merantau ke Jakarta. Ia pun berkesempatan kuliah Jurusan Teknik Informatika di Universitas Bina Nusantara. Namun, baru dua tahun berkuliah, ayahnya sakit sehingga ia harus mencari pekerjaan sampingan menjadi penjaga warnet.

Meski pekerjaan itu dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang, namun keberkahan bagi William justru datang dari sana. William sendri menjadi penjaga warnet mulai dari pukul 21.00 malam hingga pukul 09.00 pagi.

”Dari sini saya bisa belajar internet secara gratis. Pada 2003 saya lulus, tapi tidak pernah mempunyai cita-cita atau impian sebagai pengusaha. Empat tahun sebagai pekerja kantoran di beberapa perusahaan berbeda," cerita William.

Setelah bekerja kantoran, barulah William memulai perusahaannya. Bersama dengan Leon, ia mereka mendirikan Tokopedia. Dan pada 17 Agustus 2009, e-commerce itu resmi diluncurkan. Peluang mendirikan Tokopedia ini dirasakan oleh William sejak tahun 2007.

"Lalu, pada 2007, saya melihat peluang membangun Tokopedia setelah saya berkilas balik dengan melihat ketimpangan di kampung halaman itu, namun saya tidak punya modal,” ujarnya.

Meski demikian, ia terinspirasi dari perusahaan Google dan Facebook yang mendapatkan modal dari pemodal ventura. Sayangnya, saat itu, William belum kenal siapapun, ia hanya kenal dengan bos tempatnya bekerja dan mengajukan idenya.

Ide tersebut kemudian disambut dengan positif. Bosnya pun memperkenalkan William dengan teman-temannya yang memiliki uang. Dua tahun mencari modal, tetapi gagal. Kebanyakan dari para calon investor itu ragu dan khawatir akan kompetisi. Namun, William semakin terpacu ketika ada yang memandang idenya sebelah mata.

William pun kemudian mulai mencari Sumber Daya Manusia (SDM) yang memadai untuk perusahaannya. Ia kembali ke kampus dan mengikuti pameran peluang kerja.

”Saya berdiri dua hari di pameran itu untuk mencari kandidat. Tidak satu pun yang melamar di pameran itu. Sementara, di depan saya adalah satu stan sebuah bank besar. Di stan bank itu ada ribuan mahasiswa yang mengantre. Di tempat saya cuma ada satu mahasiswi yang menjadi panitia dan dia bertanya ini perusahaan apa?" ujar William.

Lalu, William mengubah strategi dan mulai berbicara dari kelas ke kelas, sehingga pelamar pun mulai bertambah. Tahun kelima, William mendapat 85 orang. Tetapi kini, puluhan ribu kandidat mulai tertarik untuk berkembang bersama Tokopedia.

Usai Tokopedia diluncurkan pada 17 Agustus 2009, pemodal dari luar negeri mulai berdatangan, bahkan mereka kedatangan anak Indonesia yang berkuliah di Harvard Business School untuk magang di perusahaannya.

Setahun berdiri, Tokopedia mengalami perkembangan signifikan. Mereka berhasil mengandeng 4.659 merchant dengan 44.785 anggota. Transaksi yang ditorehkan mencapai Rp5,954 miliar. Angka tersebut terus bertambah hingga menjadi e-commerce papan atas Indonesia.

William berkali-kali mengatakan, modal dari semua itu adalah semangat bambu runcing. Ia belajar dari para pejuang Indonesia yang hanya menggunakan bambu runcing tetapi bisa memerdekakan Indonesia melawan penjajah bersenjata canggih. 

"Pertanyaan yang saya sering dapat adalah bagaimana saya bisa bertahan. Ada yang memberi saya nasehat, jangan mimpi muluk-muluk, yang realistis saja. Tapi Bung Karno pernah bilang, bermimpilah setinggi langit sehingga kalau jatuh masih di antara bintang-bintang," tandas William.

Tag: William Tanuwijaya, PT Tokopedia

Penulis/Editor: Fajria Anindya Utami

Foto: Sufri Yuliardi