Minggu, 09 Mei 2021 Portal Berita Entrepreneur

Quarter Life Crisis Bikin Galau, Apa Sih yang Seharusnya Dilakukan?

Foto Berita Quarter Life Crisis Bikin Galau, Apa Sih yang Seharusnya Dilakukan?
WE Entrepreneur, Jakarta -

Yasa Singgih, CEO and Founder Men's Republic bersama Fellexandro Ruby mengungkap Quarter Life Crisis yang paling sering dikeluhkan generasi milenial. Hal tersebut mereka bincangkan melalui video YouTube bertajuk "Cara Keluar Dari Quarter Life Crisis -- Diinterview Yasa Singgih (Men's Republic)".

Quarter Life Crisis terjadi tak harus selalu saat kamu berusia 25 tahun. Bisa saja Quarter Life Crisis terjadi lebih awal di usia 19 tahun atau 23 tahun seperti Yasa Singgih.

Quarter Life Crisis ini spektrumnya luas, tak hanya soal kegagalan. Tetapi yang jelas, Quarter Life Crisis terjadi karena kegalauan, entah galau karena masalah kehidupan atau galau karena justru kesuksesan.

Baca Juga: Jangan Cuma Rebahan! Ini Cara Menambah Sumber Pendapatan Agar Hidup Tenang Tanpa Kepikiran Uang

Untuk beberapa orang, Quarter Life Crisis mungkin dialami dengan satu fase pendek. Tetapi Fellexandro Ruby mengalami masa-masa yang panjang dalam Quarter Life Crisis yakni selama bertahun-tahun.

Quarter Life Crisis terjadi karena ketika memasuki usia 20an, kita masih belum tahu hidup untuk apa. Sementara, perjalanan hidup kita masih panjang. Di usia ini juga, manusia pada umumnya normal untuk mengambil keputusan yang tidak rasional.

Pengalaman Fellexandro Ruby saat mengalami Quarter Life Crisis yakni ia berkelana ke Amerika selama tiga minggu tanpa memiliki paket data di ponselnya. Tujuannya ia ingin banyak mengobrol dengan orang-orang di sana. Di saat itulah Ruby menyadari bahwa semua orang di belahan dunia manapun pasti mengalami Quarter Life Crisis.

Di suatu titik hingga akhirnya Ruby bisa berdamai dengan dirinya dari Quarter Life Crisis, Ruby sadar bahwa apa yang ia cari, ada di dalam dirinya sendiri. Di saat itu, ia bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini:

  • Apa nilai yang kamu punya?
  • Hal apa yang kamu kuasai?
  • Apa yang membuatmu semangat di pagi hari ketika bangun tidur?
  • Kesuksesan versi kamu itu apa?

Setelah bisa menjawab itu semua, Ruby mulai memahami dirinya sendiri, ia mulai percaya diri dan tak lagi galau akan kehidupan. Barulah Ruby mencoba sembilan profesi berbeda yang ia sebut sebagai "Career Capital" sebagai pengusaha. Menurutnya, untuk menjadi pengusaha zaman sekarang, diperlukan banyak skill agar bisa sejalan dengan masa kini.

Yasa Singgih pun melihat bahwa Ruby membangun sesuatu yang memiliki value (nilai). Karena itu, cara terbaik untuk mengenal diri sendiri versi Ruby adalah ketika berbahagia dengan apa yang dikerjakan dalam hidup, selaras dengan siapa diri kita.

Yasa Singgih juga sependapat dengan Ruby, saat ia baru memulai Men's Republic, semua itu hanya untuk 'cuan' alias uang dan keuntungan. Namun, pada suatu titik, akhirnya Yasa merasa uang tidak selalu bisa membeli kebahagiaan. Dari situ, Yasa mulai melanjutkan bisnisnya dengan harapan bisa membawa manfaat bagi banyak orang kedepannya.

Yasa juga mengubah kebiasaan-kebiasaannya dalam bekerja. Ia mulai membangun tiga formula dalam perusahaannya, yaitu Dream (Mimpi), Purprose (Tujuan) dan Value (Nilai). Mimpi yang ingin digapai Yasa melalui perusahaannya adalah ia ingin Men's Republic menjadi company dengan multi-level brands.

Sementara tujuannya yakni kebaikan yang menginspirasi dengan value yang menjadi culture perusahaan yakni bekerja dengan senang, bekerja seperti atlet yang bisa diukur, beginners mind (berpikir seperti pemula), aim for legacy (bertujuan untuk mencari penerus) dan embrace reality (berdamai dengan realita). Karena pada akhirnya, semua yang terlihat hanya seperti kata-kata indah itu akan menjadi kenyataan jika terus terekam di otak dan keseharian kita.

Dan cara mendapatkan itu semua adalah dengan membaca buku, yang artinya sama saja dengan mencari virtual mentor bagi diri kita sendiri. Saat dibaca, kita akan mulai menemukan hal-hal yang cocok dengan kehidupan kita atau tidak.

Karena itu, Ruby menyarankan untuk membaca buku biografi. Karena dari pengalaman hidup orang lain, kita bisa belajar tanpa perlu merasakan kesulitan yang mereka hadapi. Namun, ketika dijalani bukan berarti langsung bertemu dengan jawabannya. Karena itulah, yang dilakukan di usia 20an adalah untuk bekerja keras.

Kebanyakan orang saking tak percaya dengan diri sendiri, mereka terlalu sering membandingkan dirinya dengan orang lain atau hal-hal di luar diri mereka sendiri. Mereka lupa untuk melihat ke dalam diri mereka sendiri.

Padahal, bisa jadi hal yang terlihat mewah di dalam diri orang lain, hanya bisa dilihat dari kejauhan. Kita tak pernah tahu apa 'dalamnya' dari kemewahan yang kita lihat.

Dari masa-masa pencarian Quarter Life Crisis ini yang semua orang di muka Bumi ini mempertanyakan, tak satupun jawaban yang mereka temukan itu sama dengan satu dan lainnya. Apapun jawaban yang kamu dapatkan nanti, itulah jawaban yang terbaik untuk dirimu sendiri.

"Lu gak perlu menyamakan apa yang seharusnya terjadi di orang lain harus terjadi di diri lu juga. Bisa jadi, Quarter Life Crisis ini adalah insecure yang kita ciptakan sendiri," tandas Yasa Singgih.

Oleh karena itu, sekian lama Fellexandro Ruby mencari jawaban di dalam dirinya sendiri, ia tak lagi membandingkan dirinya atau hidupnya dengan orang lain. Ruby hanya sibuk mengeluarkan hal-hal 'authentic' yang ada di dalam dirinya.

Yasa Singgih pun menambahkan bahwa untuk sukses dan menjadi produktif bukan berarti harus belajar setiap waktu. Yasa mengung bahkan pada saat istirahat, kamu juga sedang produktif. Jadi, jangan overdosis atau salah kaprah atas kegiatan produktif bahwa harus bekerja 24/7.

Lebih lanjut, Yasa bertanya kepada Ruby, bagaimana cara untuk menemukan 'Why' dalam hidup.

Ruby mengungkap bahwa menemukan 'Why' tak harus muluk-muluk. 'Why' di sini adalah alasan di balik apa yang kamu lakukan hari ini. Ketika jawaban dari 'Why' seseorang ingin terlepas dari Sandwich Generation sehingga anak-cucu mereka nanti tidak merasakan Sandwich Generation, itu sudah menjadi 'Why' yang cukup.

Dan 'Why' ini tergantung pada 'musim' kehidupan orang itu. Perubahan hidup yang ekstrem terjadi adalah ketika nanti seseorang sudah memiliki anak. Sebagai manusia, 'Why' di dalam hidup kita bisa berubah, dan itu tidak apa-apa karena manusia pasti bertumbuh dan berkembang.

Dalam melakukan pekerjaan, terkadang ada rasa kehabisan energi. Ruby mengatakan jangan tunggu kehabisan energi, tetapi cegahlah agar hal itu tidak terjadi. Jika dalam keseharian sudah memiliki jadwal, sisakan tempat di pikiran bahwa pasti ada kemungkinan-kemungkinan yang tak sesuai dengan kegiatan sehari-hari. Bukan berarti mempersiapkan kemungkinan terburuk, tetapi tempatkanlah dirimu berada di tengah-tengahnya.

Tag: Quarter Life Crisis, Fellexandro Ruby, Yasa Singgih

Penulis/Editor: Fajria Anindya Utami

Foto: Unsplash/Zhang Kenny