Minggu, 09 Mei 2021 Portal Berita Entrepreneur

Sempat Jadi Tukang Cuci Piring dan Pelayan, Gita Wirjawan Kini Sosok Pengusaha Inspirasional

Foto Berita Sempat Jadi Tukang Cuci Piring dan Pelayan, Gita Wirjawan Kini Sosok Pengusaha Inspirasional
WE Entrepreneur, Jakarta -

Pengusaha Putri Tanjung melalui kanal YouTube CXO Media mewawancarai Gita Wirjawan, seorang pengusaha pendiri Ancora Group yang juga mantan Menteri Perdagangan pada Kabinet Indonesia Bersatu II era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Gita Wirjawan bercerita bahwa saat ia merekrut seseorang, ia tak lagi melihat kecerdasan atau berwawasan luas orang tersebut. Tetapi, ia akan melihat keberuntungannya. Gita mengungkap, dalam berbisnis tak melulu soal kecerdasan, tetapi juga ada faktor keberuntungan.

Baca Juga: Nabung di Bank Bikin Miskin Perlahan, Lo Kheng Hong: Kalau Mau Kaya, Pasar Modal Tempatnya

Gita Wirjawan juga selalu membaca buku setiap minggu. Setiap kali ke toko buku, ia akan mengambil 10 buku terbaik yang ada saat itu dan membaca buku tersebut tanpa melihat topik. Apapun topik buku itu, akan dengan senang hati ia baca.

Lebih lanjut, Gita pun menceritakan asam garam kehidupan yang sudah ia jalani sebagai seorang pengusaha. Saat tiba di Amerika, Gita mengakui bahwa ia berasal dari keluarga kelas menengah di Jakarta, tetapi begitu tiba di AS, ia justru sangat pas-pasan. Karena itu, agar tidak pulang ke Indonesia, segala pekerjaan sudah dilakukan oleh Gita Wirjawan, mulai dari cuci piring, bersih-bersih toilet, hingga mengeluarkan bakatnya bermain piano.

Dalam seminggu, Gita bisa bekerja selama 40 jam, sambil kuliah 5-7 kelas per semester. Dahulu, upah minimum yang didapatkan Gita adalah 3 dolar AS dan 65 sen per jam. Sementara itu, untuk bermain piano, Gita dibayar 25 dolar AS per jam, dan ia bisa bermain piano 2-3 jam. Selain bayaran per jam, Gita juga biasa mendapatkan tip hingga 50 dolar AS jika bermain lagu-lagu romantis dan ada pasangan yang tersentuh mendengarnya. Saat itu, 50 dolar AS adalah nominal yang besar di tahun 80-an.

Saat menjadi pelayan restoran, Gita bercerita bahwa ia belajar banyak soal pelayanan pelanggan. Kepuasan pelanggan adalah yang utama, karena itu jika direspon secara benar, maka akan memberikan feedback yang positif untuk perusahaan.

Sebetulnya, Gita Wirjawan sejak kecil ingin menjadi musisi. Namun, sang ibunda memintanya untuk mengambil akuntansi. Meski tak sesuai keinginannya, tetapi keputusan ini tak pernah ia sesali dalam hidupnya.

Usai lulus kuliah, Gita menjalani karirnya sebagai bankir selama puluhan tahun hingga tahun 2008 memutuskan untuk menjadi pengusaha. Langkah awal dalam pikiran Gita Wirjawan adalah "Kalau orang lain bisa, kenapa saya tidak."

Karena itu ia pun membangun perusahaan, namun berhenti selama 5 tahun karena harus mengabdi kepada negara. Setelah itu, Gita melanjutkan perusahaannya dan ia merasa senang karena bisa menciptakan lapangan pekerjaan.

Saat baru terjun sebagai pengusaha, Gita membuat private equity, mengelola dana dari beberapa institusi di luar negeri dan menginvestasikan di Indonesia. Keuntungan dan return-nya pun luar biasa. Hingga akhirnya, Gita berinvestasi di real estat dan sumber daya alam.

Bagi Gita Wirjawan, seorang mental pengusaha harus berani mengambil risiko. Ia juga harus bisa mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang bisa mengisi kekurangannya, dan menurut Gita, hal ini adalah hal yang paling sulit.

Terlebih di era saat ini yang serba digitalisasi, segala hal bisa menjadi bisnis. Berbeda halnya dengan apa yang dijalani Gita Wirjawan saat baru memulai bisnis. Kebanyakan orang saat itu ingin berbisnis tambang atau properti. Namun, saat ini segala hal bisa menjadi bisnis digitalisasi.

Namun, ada dua hal penting yang menjadi sorotan seorang Gita Wirjawan, yaitu kita kurang peka terhadap perubahan iklim, dan kurang aktif membicarakan soal kesenjangan sosial. Digitalisasi ini akan menjadi cemerlang jika ada seseorang yang bisa menemukan solusi dari dua hal tersebut.

"Dan saya percaya kedepan tuh orang yang akan menjadi triliuner pertama adalah orang yang bisa mencari solusi untuk supaya perubahan iklim ini bisa teratasi," tandas Gita.

"Salah satu atau satu yang paling mahal yang harus disolusikan adalah perubahan iklim." lanjutnya lagi.

Lebih lanjut, Gita melihat potensi content creator Indonesia di ranah digital. Menurutnya, potensi tersebut bisa mengalahan Korea Selatan pada tahun 2045. Sayangnya, menurut Gita, Indonesia kekurangan narator untuk membuat aksi-aksi ini menjadi viral.

Gita melanjutkan bahwa memang berbicara di depan kamera atau di depan umum tidak mudah. Tetapi bisa diatasi dengan mencoba berbicara di depan cermin selama 20 menit sehari. Jika sudah terbiasa, lama-lama berbicara di depan umum bukan hambatan lagi.

Salah satu kesalahan anak muda menurut Gita dalam pola pikirnya adalah menciptakan kegagalan agar bisa bangkit lebih cepat. Menurutnya, seharusnya tunda kegagalan selama mungkin dan ciptakan kesuksesan sejak dini. Dalam lima tahun kedepan, Gita memprediksi Indonesia akan lebih dianggap di kawasan dan di dunia.

Tag: gita wirjawan

Penulis/Editor: Fajria Anindya Utami

Foto: Sufri Yuliardi