Minggu, 21 Juli 2024 Portal Berita Entrepreneur

Partner EY: Bonus Demografi Indonesia, Ada Kecenderungan Mereka Jadi Entrepreneur

Foto Berita Partner EY: Bonus Demografi Indonesia, Ada Kecenderungan Mereka Jadi Entrepreneur
WE Entrepreneur, Jakarta -

Salah satu Partner Ernst & Young (EY) Parthenon Indonesia menyatakan hasil riset berjudul Studi Pasar dan Advokasi Kebijakan UMKM Indonesia mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki bonus demografi, sehingga menyebabkan ada kecenderungan masyarakat yang masuk menjadi pengusaha atau entrepreneur.

Secara umum, terdapat empat segmentasi UMKM yakni kelompok bisnis prospektif, kelompok kebutuhan dasar, kelompok bisnis konvensional bertahan, dan kelompok bisnis unggul. 

Partner EY Parthenon Indonesia, Strategy and Transactions, Anugrah Pratama memaparkan kelompok bisnis prospektif memiliki kemampuan literasi finansial dan digital, dan percaya bahwa kelompok ini akan memiliki pertumbuhan besar. 

Baca Juga: Riset EY dan AFPI: Empat Segmentasi UMKM Masih Ada Kesenjangan Pendanaan yang Besar

“Kelompok ini adalah segmentasi mendatang. Apa itu dia kecil, tetapi punya kemampuan literasi baik finansial dan digital, tergantung, bisa literasi finansial dulu, bisa literasi digital dulu, atau keduanya. Ini segmentasi mendatang dan dipercaya pertumbuhannya besar. Siapa ini, kenapa bisa terjadi?” pancing Anugrah di sesi pemaparannya di Jakarta pada Jumat (14/7/2023).

Anugrah menjelaskan, karena “Indonesia ada bonus demografi, jadi ada kecenderungan yang masuk jadi entrepreneur.”

Anugrah mengambil contoh generasi muda yang sudah fasih dan native secara digital. Usai lulus kuliah, membuka suatu bisnis kecil dan tidak masuk sebagai karyawan di pasar tenaga kerja atau pun pegawai negeri.

“Secara definisi, mereka native secara digital, punya literasi secara digital, tetapi belum tentu punya literasi secara finansial,” ungkap Anugrah.

Meskipun generasi muda yang terjun ke UMKM fasih secara digital dan literasi, namun pendanaan UMKM masih terdapat kesenjangan. Bahkan, terdapat satu kelompok yang tidak bisa diidentifikasi oleh empat segmentasi tersebut, yakni tidak teridentifikasi (unidentified) berjumlah sekitar 25%. 

“Ada yang kami sebut sebagai phantom atau hantu. Enggak bisa kami identifikasi, dan itu besarnya cukup signifikan,” ujar Anugrah di sesi pemaparan bagian lain.

EY memproyeksikan total kebutuhan pembiayaan UMKM pada 2026 akan mencapai Rp4.300 triliun dengan kemampuan suplai hanya Rp1.900 triliun. Artinya terdapat selisih atau kesenjangan sebesar Rp2.400 triliun dari total kebutuhan pembiayaan.

Permintaan dan suplai bertumbuh dengan laju pertumbuhan hampir sama, yakni Compound Annual Growth Rate (CAGR) ~7,2% dari tahun 2022 hingga 2026. Ini menyebabkan selisih pembiayaan juga bertumbuh dengan laju CAGR ~7%, sehingga kesenjangan akan terus melebar karena laju pertumbuhan masih positif.

Anugrah mengatakan, kesenjangan yang terus melebar terjadi jika “kondisi pasokan pembiayaannya tetap sama tanpa dibarengi kebijakan pendukung tambahan.”

Karena itu, insentif pendanaan yang menarik akan mendorong peningkatan pasokan pembiayaan, sehingga teknologi berbasis pinjaman (fintech lending) dapat memainkan peran lebih besar karena tingkat risiko dan aksesibilitas platform yang lebih cocok dengan UMKM.

Tag: Entrepreneur, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Ernst & Young

Penulis: Nadia Khadijah Putri

Editor: Rosmayanti

Foto: Nadia Khadijah Putri