Rabu, 21 April 2021 Portal Berita Entrepreneur

Kisah Sukses Pendiri Bank BCA, yang Masuk Jajaran Orang Terkaya di Dunia

Foto Berita Kisah Sukses Pendiri Bank BCA, yang Masuk Jajaran Orang Terkaya di Dunia
WE Entrepreneur, Jakarta -

Soedono Salim merupakan orang yang begitu berjasa di bidang perekonomian. Ia mampu mendirikan Bank Central Asia (BCA) yang waktu itu sempat menjadi bank terbesar kedua di Indonesia. Selain itu, ia juga banyak mendirikan perusahaan yang sampai saat ini namanya semakin besar di tanah air yang masuk ke dalam Salim Grup.

Pria yang memiliki nama Tionghoa Liem Sioe Liong ini lahir di Tiongkok 19 Juli 1916, dia merupakan pendiri grup Salim. Kepemilikan Grup Salim meliputi Indofood, Indomobil, Indocement, Indosiar, BCA, Indomaret, Indomarco, Pt Mega, Bank Windu Kencana, PT Hanurata. Ia merupakan salah satu konglomerat dan pengusaha sukses asal Indonesia. Saat itu, Liem juga sempat menduduki peringkat pertama sebagai orang terkaya di Indonesia dan Asia.

Perjalanan suksesnya dimulai di sebuah pelabuhan kecil, Fukien di bilangan Selatan Benua Tiongkok. Di tengah hiruk pikuknya usaha ekspansi Jepang ke Pasifik kala itu, dibarengi dengan dongeng harta karun kerajaan-kerajaan Eropa di Asia Tenggara, tahun 1939, Liem memutuskan untuk mengikuti jejak kakaknya yang tertua untuk bermigrasi ke Indonesia.

Dari Fukien, ia berangkat ke Amoy, tempat di mana bersandar sebuah kapal dagang Belanda yang membawanya menyebrangi Laut Tiongkok. Membutuhkan waktu selama sebulan untuk ia sampai di Indonesia. Sesampainya di Indonesia, Liem memilih memberhentikan perjalanannya di Kota Kudus, yang terkenal sebagai pusat pabrik rokok kretek.

Kota Kudus yang sudah terkenal sebagai pusat pabrik rokok kretek itu sangat membutuhkan bahan baku tembakau dan cengkeh. Sejak tinggal di sana, Liem Sioe Liong sudah terlatih menjadi supplier cengkeh, dengan jalan menyeludupkan bahan baku tersebut dari Maluku, Sumatera, Sulawesi Utara melalui Singapura untuk kemudian melalui jalur-jalur khusus penyeludupan menuju Kudus. Sehingga tidak heran, dagang cengkeh merupakan salah satu pilar pertama bisnis seorang Liem Sioe Liong.

Setelah menikah dengan seorang gadis asal Lasem, Liem semakin ulet bekerja dan berusaha. Usaha yang dirintisnya terus berkembang. Tetapi, ketika awal 1940-an Jepang menjajah Indonesia, usahanya mengalami kebangkrutan. Ditambah lagi, dia mengalami kecelakaan saat mobil yang ditumpanginya masuk jurang. Seluruh penumpang meninggal kecuali dirinya. Setelah kecelakaan itu, Liem akhirnya pindah ke Jakarta.

Seirama dengan masa pemerintahan dan pembangunan Orde Baru, bisnisnya pun berkembang semakin pesat. Pada tahun 1969, Liem bersama Sudwikatmono, Djohar Sutanto, dan Ibrahim Risjad mendirikan CV Waringin Kentjana. Liem menjabat sebagai chairman dan Sudwikatmono sebagai CEO. Kemudian pada tahun 1970, mereka mendirikan pabrik tepung terigu PT Bogasari dengan modal pinjaman dari Bogasari yang memonopoli suplai tepung terigu untuk Indonesia bagian Barat, yang meliputi sekitar 2/3 penduduk Indonesia, di samping PT Prima untuk Indonesia bagian Timur.

Bogasari merupakan perusahaan swasta yang paling unik di Indonesia, karena hanya Bogasarilah yang diberikan pemerintah fasilitas pelabuhan sendiri. Ketika pertama kali berdiri, PT Bogasari berkantor di Jalan Asemka, Jakarta dengan kantor hanya seluas 100 meter.

Tidak berhenti di situ, Liem dan kelompoknya kembali mendirikan perusahaan, kali ini tahun 1975, pabrik semen PT Indocement Tunggal Perkasa berdiri. Ia pun mulai merambah ke bidang perbankan dengan mendirikan BCA bersama Mochtar Riyadi. Berdirinya BCA mampu membuat Liem dinobatkan sebagai orang terkaya di Indonesia dan Asia, dan namanya pun masuk ke dalam daftar 100 orang terkaya di dunia.

Namanya kehidupan, pasang-surut pasti terjadi. Ketika massa reformasi, Liem mengalami penurunan kekayaan akibat terjadinya krisi moneter. Hal itu menyebabkan Liem harus pindah bermukim ke Singapura. Setelah peristiwa tersebut, ia mulai mengalihkan kepengurusan bisnisnya kepada anaknya Anthony Salim, lalu memutuskan menetap di Singapura hingga tutup usia.

Tag: PT Bank Central Asia Tbk (BCA)

Penulis/Editor: Clara Aprilia Sukandar

Foto: Muhamad Ihsan