Minggu, 11 April 2021 Portal Berita Entrepreneur

Social Entrepreneur Ini Berdayakan Kaum Ibu di 20 Desa di Flores

Foto Berita Social Entrepreneur Ini Berdayakan Kaum Ibu di 20 Desa di Flores
WE Entrepreneur, Jakarta -

Namanya Azalea Ayuningtyas (27), social entrepreneur yang berhasil memberdayakan para ibu rumah tangga di 20 desa, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ayu, sapaan akrabnya, menceritakan, anyaman adalah budaya khas di banyak daerah di Indonesia. Salah satunya di NTT.

Ibu-ibu yang cukup terampil dengan warisan budayanya dan bahan baku yaitu daun lontar yang tesedia melimpah membuat Ayu optimis dalam menjalankan bisnis produk anyaman yang ia beri nama Du'Anyam. Namun yang disayangkan, menurut Ayu, mereka tak memiliki akses pasar.

"Kami menggandeng para wanita di Flores ini yang selama ini menggantungkan kehidupannya dari menganyam daun lontar untuk sama-sama membangun bisnis," ujarnya.

Lewat Du'Anyam, Ayu yang merupakan lulusan Harvard University dan teman-temannya membantu para ibu dan wanita di 20 desa di Flores untuk lebih banyak menghasilkan produk kerajinan anyaman dari daun lontar dengan tetap mempertahankan ciri khas desain tradisional. Du'Anyam menghasilkan tas, sepatu, dan beragam souvenir serta produk kerajinan berbahan daun lontar lain.

"Produk ini kami jual di beberapa resor, hotel, dan toko souvenir di Bali," kata Ayu.

Uang hasil penjualan digunakan untuk memperbaiki dan memenuhi kebutuhan pangan sehat anak-anak dan para ibu.

"Tingginya angka malnutrisi di Flores disebabkan para orang tua tidak memiliki cukup uang untuk membeli makanan bergizi bagi kebutuhan sehari-hari anak dan mereka sendiri," kata Ayu. 

Ayu sadar betul, bisnis sosial yang sedang ia jalankan masih tergolong sangat kecil dan muda. "Masih banyak tantangan yang harus saya dan teman-teman hadapi agar bisnis ini menjadi makin matang," katanya.

Terutama, kata Ayu, dalam hal mencari investor untuk pendanaan. Du'Anyammembiayai aktivitasnya dari pendanaan jangka pendek dari hasil memenangkan berbagai kompetisi kewirausahaan sosial, seperti MIT Global Ideas Challenge 2014, UnLtd Indonesia Incubation profram 2014-2016, Global Social Venture Competition 2015, serta dana hibah dari Tanoto Foundation.

Melihat Potensi Bisnis Anyaman

Sebagai salah satu kerajinan tradisional, anyaman memang sudah menjadi bagian dari budaya Indonesia. Selain bahannya yang alami, produk turunan dari anyaman juga sangat banyak, contohnya tikar, keranjang, tas, dan lain-lain. Di beberapa daerah di Tanah Air, kemampuan menganyam bahkan diajarkan secara turun-temurun.

Salah satu daerah yang penduduknya memiliki kemahiran dalam menganyam adalah Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun, kerajinan ini sempat "terlupakan" dan hanya ibu-ibu paruh baya yang memiliki kemampuan menganyam. Pada 2015, kerajinan menganyam ini kembali dibangkitkan oleh Hana Keraf dan kawan-kawan.

Di sana ia menemukan bahwa masalah kesehatan pada ibu dan anak cukup memprihatinkan, bahkan di sana juga merupakan wilayah dengan kasus kematian ibu dan anak tertinggi. Hal ini dipengaruhi oleh rendahnya tingkat sosial ekonomi. Meskipun pemerintah dan beberapa NGO (Non Government Organisation) telah menggalakan program kesehatan gratis, nyatanya ada saja gap yang membuat masyarakat tidak bisa mengakses pelayanan kesehatan.

Salah satunya adalah para ibu yang ternyata tidak memiliki uang cash untuk sehari-hari. "Untuk bisa berobat ke Puskesmas 'kan harus punya fotokopi KTP. Nah, mereka uang seribu rupiah aja untuk fotokopi enggak ada," ujar Hana yang orang tuanya lahir di NTT.

Untuk menjawab masalah ini, dipilihlah model bisnis kewirausahaan sosial yang berkelanjutan. Ayu bersama Hanna Keraf, Melia Winata, dan Zona Ngadiman membangun sebuah social entrepreneurship bernama Du'Anyam.

"Dalam bahasa Flores, Du' berarti ibu sehingga Du'Anyam bermakna ibu yang menganyam," jelasnya.

Du'Anyam adalah sebuah kewirausahaan sosial yang mengusung peran aktif dalam mengatasi masalah kesehatan ibu dan anak yang terjadi di NTT. Lewat Du'Anyam, Hanna dan teman-temannya menggandeng para ibu dan wanita di daerah NTT untuk menganyam daun lontar sebagai satu alternatif pendapatan tambahan dari sekadar berladang.

Di lini produksi, Du'Anyam memiliki dua wilayah. Pertama di NTT sebagai pusat pengolahan raw material, kemudian Jakarta sebagai kantor utama dan tempat workshop. Bahan setengah jadi berupa hasil anyaman dikirim ke Jakarta untuk diolah menjadi ragam produk, seperti tas, souvenir, dan produk kerajinan lain berbahan daun lontar.

Dari segi desain, meski menggunakan bahan alami, produk yang dihasilkan Du'Anyam bergaya modern dan tidak ketinggalan zaman. Hal ini juga berkat masukan dari tim Du'Anyam pada para ibu penganyam.

Hanna juga menambahkan bahwa Du'Anyam tak ingin dikenal semata karena menjual kemiskinan dari NTT. "Kami ingin Du'Anyam dikenal karena memang kualitas dan desain produknya yang bagus," ungkapnya.

Hasil produksi Du'Anyam sebagian besar dipesan oleh hotel-hotel dan juga dijual secara online.

Tag: Du'Anyam, Social Entrepreneurship

Penulis: Ning Rahayu

Editor: Fauziah Nurul Hidayah

Foto: Kemenkop dan UKM