Sabtu, 17 April 2021 Portal Berita Entrepreneur

Perkenalkan Josh Tetrick, Pria di Balik Kesuksesan Daging Ayam Rekayasa

Foto Berita Perkenalkan Josh Tetrick, Pria di Balik Kesuksesan Daging Ayam Rekayasa
WE Entrepreneur, Jakarta -

Pendiri startup Eat Just, Josh Tetrick tengah menjadi sorotan karena ia berhasil membuat daging ayam hasil rekayasa laboratorium pertama di dunia. Inovasi tersebut pun dilirik banyak investor hingga ia menjadi kaya raya.

Dilansir dari CNBC Make It di Jakarta, Kamis (4/3/21) daging ayam buatan Eat Just bukanlah ayam sungguhan, melainkan sel daging ayam. Sel tersebut diberi nutrisi hingga akhirnya berkembang dan dibuat daging cincang mentah.

Baca Juga: Berkat Naiknya Minat Bitcoin, Startup Pajak Kripto Ini Raih Investasi Ratusan Juta Dolar

Proses pembuatan 'daging ayam' ini pun terhitung singkat hanya dua minggu. Namun, proses regulasi menjadi kendala utama. Usai dua tahun proses penelitian, pada akhir tahun 2020, Singapura pun menjadi negara pertama di dunia yang mengizinkan penjualan daging Eat Just ini. Adapun produk tersebut bernama Good Meat.

"Kami memiliki kebebasan untuk menjual di seluruh Singapura, baik ritel, layanan makanan, pedagang asongan, apa saja,” ujar Tetrick.

Namun, baru ada satu restoran yang menggunakan daging ini yakni Singapore Restaurant 1880. Adapun satu set makanan hasil olahan daging Eat Just ini dibanderol USD17 atau setara dengan Rp250 ribuan.

Dalam beberpa bulan kedepan, diprediksi akan menyusul banyak restoran yang akan memakai daging ini.

Selain menjadi negara pertama yang mengizinkan daging Good Meat, Singapura juga akan menjadi pabrik untuk 30% produksi budidaya daging tersebut, terutama di Asia Pasifik.

Adapun ide pertama kali Tetrick memulai inovasi ini yakni saat ini bekerja di sebuah NGO di Afrika tahun 2011. Ia melihat salah satu permasalahan yang ia temukan adalah krisis pangan di sebagian besar negara sub-Afrika.

Sayangnya, inovasi daging ini di tahun 2011 masih tampak mustahil. Barulah 7 tahun kemudian, Eat Just berhasil membuat telur pertamanya pada tahun 2018 yang dinamakan Just Egg. Produk telur rekayasa itu dibuat dari bahan utama kacang polong yang kaya akan protein. Berawal dari telur inilah Eat Just berambisi membuat daging ayam dan daging sapi.

"Apa yang kita inginkan selanjutnya adalah daging ayam dan daging sapi sungguhan, tapi bukan dari tanaman. Daging ayam dan sapi sungguhan yang tidak harus membunuh binatang, yang tidak perlu menggunakan setetes pun antibiotik, dan secara umum itu adalah proses yang disebut pertanian seluler," jelasnya.

Alhasil, inovasi ini pun menjadi hal baru bagi sistem pangan global yang terlalu mengeksploitasi hewan dan tumbuhan. Eat Just menghasilkan daging ayam tanpa harus memotong ayam yang masih hidup.

Diperkirakan, setiap tahunnya ada 50 miliar ayam yang disembelih untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi manusia. Selain itu, ada 1,3 miliar pekerja yang bergantung pada distribusi hasil ternak.

Namun, industri peternakan menyumbang 10-12% emisi gas rumah kaca global yang menjadi sebab dari perubahan iklim.

Tag: Josh Tetrick, Eat Just

Penulis/Editor: Fajria Anindya Utami

Foto: Twitter/companyweek