Kamis, 04 Maret 2021 Portal Berita Entrepreneur

Dulu Hanya Makan Nasi Garem, Danu Sofwan Kini Juragan Cendol 800 Cabang hingga ke Hong Kong

Foto Berita Dulu Hanya Makan Nasi Garem, Danu Sofwan Kini Juragan Cendol 800 Cabang hingga ke Hong Kong
WE Entrepreneur, Jakarta -

Dalam vide YouTube bertajuk "Dulu Dijebak Jadi Bandar Narkoba Sekarang Juragan Cendol 800 Outlet & Ribuan Karyawan" Rico Huang menggandeng Danu Sofwan yang merupakan pendiri Radja Cendol yang sudah memiliki 800 outlet diseluruh Indonesia hingga Hong Kong, sekaligus pemilik Es Teh Indonesia. Kini, Danu memiliki ribuan karyawan dalam waktu 5 tahun berbisnis.

Bisnisnya saat ini sudah dilirik oleh salah satu konglomerat besar di tanah air yang tidak bisa disebutkan detail.

Baca Juga: Gokil! Punya 39 Cabang Barbershop, Pria Ini Raup Omzet Miliaran Rupiah! Kok Bisa?

Awal mula Danu berbisnis cendol karena ia sadar betul akan kekayaan kuliner Indonesia. Daripada ia menjual minuman asing, lebih baik ia mengangkat martabat Indonesia dengan berbisnis cendol.

Selain itu, Danu juga sudah melakukan riset bahwa Cendol termasuk ke dalam 50 minuman paling lezat di dunia. Karena itulah, ia berani berbisnis cendol dengan mulai mengemas ulang agar bisa memiliki nilai di mata milenial dan mengganti santan dengan susu lezat.

Rata-rata karyawan yang dipekerjakan oleh Danu adalah mereka yang merupakan anak yatim. Karena Danu sendiri adalah anak yatim, ia tahu betul bagaimana sulitnya hidup yang ia jalani tanpa seorang ayah.

Danu yang hanya lulusan SMA ini pernah melamar pekerjaan sebagai Office Boy dan Cleaning Service. Sayangnya, untuk bekerja saja sulit dan antre yang panjang. Karena itulah ia berbisnis, ia adalah tulang punggung keluarga yang harus menafkahi keluarganya. Penjualan rata-rata Radja Cendol ini yakni 1.000 cups per hari.

Danu pun menceritakan kisah hidupnya yang ia gambarkan mirip roller coaster. Ia memang lahir dari keluarga yang berkecukupan, ayahnya memiliki perusahaan kontraktor, bahkan di rumahnya memiliki banyak mobil dan kendaraan.

Sayangnya, tiba-tiba ayahnya bangkrut. Semasa sekolah, Danu adalah anak yang manja, apapun yang ia inginkan terpenuhi. Bahkan ia pernah hampir tidak naik kelas hingga akhirnya menyogok sekolah. Meski masa lalunya penuh kenakalan sampai bolos sekolah. Ia pun tertampar kehidupan saat ayahnya bangkrut karena ia tak bisa apa-apa dan tidak memiliki skill apapun.

Danu pun merasa hilang arah dan harus menjadi tulang punggung keluarga di usia 17 tahun. Kemudian ayahnya meninggal hingga kehidupannya pun semakin berat untuk dijalani.

Semua aset yang dimiliki dijual, barang-barang habis hingga ia dan keluarganya luntang-lantung pindah-pindah kontrakan demi tinggal di rumah murah.

Bahkan, untuk makan pun Danu harus menjual barang. Ibunya berpesan, meski dalam keadaan susah, jangan sampai minta-minta dan merasa harus dikasihani. Karena itu, ia dan keluarganya bertahan sekuat mungkin meski harus menjual barang demi makan sehari-hari.

Ketika barang sudah habis sampai kasur pun dijual, mereka pun hanya makan dengan nasi, garam dan kecap. Ditambah lagi, kakak pertama Danu down syndrome karena kecelakaan jatuh saat masih balita. Danu pun mengungkap kehadiran kakaknya justru menjadi salah satu faktor terbesar ia berada di posisi sekarang.

Danu pun bercerita bagaimana ibunya pernah menyuapi kakaknya yang down syndrome dan adiknya hanya dengan nasi dan garam tetapi sambil tertawa dan cerita. Di mata Danu, pemandangan itu sangat menyakitkan. Ia yakin sekali jauh di lubuk hati paling dalam ibundanya sangat hancur tetapi tetap harus kuat di hadapan anak-anaknya meski harus kehilangan pasangan hidupnya dan menjalani kehidupan yang berat.

Setelah itu, Danu pun menangis di kamar mandi dengan sesenggukan. Ia benar-benar bertekad untuk melakukan apapun demi keluarganya tak bingung soal makan dan tak bingung soal kesehatan.

"Karena itu, gue memperkecil harapan dan memperbesar tindakan. Tetapi, gue tetap punya tujuan," tandas Danu.

Lebih lanjut, Danu menegaskan bahwa tujuan tetap harus dimiliki tetapi harapan harus diperkecil dan diperbesar melalui tindakan.

"Sekarang gue meyakini suatu hal, bro, ternyata berhasil itu bukan hanya untuk mereka yang pintar dan bekerja keras, tetapi juga untuk mereka yang sabar dan ikhlas," terang Danu.

Karena itulah, kini Danu merasakan nikmat yang melebihi harapannya. Danu bahkan pernah menjadi pengamen hingga kuli demi menghidupi keluarganya meski bayarannya hanya Rp50 ribu per minggu di tahun 2012.

"Memang harus ada yang dikorbankan dari setiap proses," ujar Danu saat harus melihat teman-temannya seusianya masih asyik nongkrong dan bermain.

Hingga suatu hari, Danu digaji Rp5 juta untuk mengirim barang dari India ke Thailand. Meski saat itu ia tak bisa bahasa Inggris dan tak memiliki passpor, tetapi ia lakukan demi keluarganya. Tetapi ternyata, Danu terjebak jaringan mafia narkoba internasional hingga Danu dan teman-temannya pun kabur serta luntang-lantung di bandara selama 7 hari.

Hingga akhirnya, Danu pun menceritakan hal ini kepada ibunya di Indonesia, dan ibunya mencari cara agar anaknya bisa pulang dengan meminjam uang ke sana-sini.

Singkat cerita, bisnis Danu melalui Radja Cendol pun sukses besar dalam waktu 5 tahun. Berbagai strategi ia jalani, salah satunya adalah storytelling. Selain itu, saat ia memulai bisnis Randol, pasar Indonesia tengah diselimuti oleh minuman luar negeri. Meski demikian, Danu optimis cendol juga bisa sukses mendunia.

Selain itu, penggunaan susu pada cendol ini bukan semata-mata agar modern, hal ini karena Indonesia termasuk negara dengan konsumsi susu terendah di dunia. Karena itu, Danu ingin berkontribusi untuk meningkatkan konsumsi susu rakyat Indonesia.

Meski demikian, bisnis ini dijalani Danu hanya dengan bermodal nekat. Tetapi, Danu juga sudah memiliki konsep yang rampung, baik dan menarik. Berbagai nama menu unik dan nyeleneh pun ia tawarkan demi menggaet pelanggan. Seperti Sundel Bolong = Tiramisu Pake Cendol Boleh Dong, lalu Digondol Satpol = Di Mana Greentea dan Cendol Bersatu Itu Nampol, terakhir ada Kece Parah = Keju Cendol Pakai Duren Aah!.

Pertama kali Danu membuat konsep cendol ini hanya bermodalkan Googling. Lalu, sebelum launching, semua 'alat perang' sudah siap sehingga Danu tahu bisnisnya mau di bawa kemana.

Dalam waktu 5 bulan, Danu mempersiapkan untuk membuka outlet cendol pertamanya. Saat itu, dana yang dibutuhkan Danu harusnya Rp5 juta tetapi ia hanya memiliki Rp300 ribu. Dari uang Rp300 ribu itu, Danu putar dengan berjualan kaos kaki hingga baju. Dari setiap keuntungan yang Danu dapatkan, ia mencicil untuk membeli peralatan-peralatan bisnisnya. Hingga 5 bulan kemudian, Danu pun membuka outlet pertamanya dan langsung balik modal di hari pertama.

Saat itu, Danu berteriak seperti orang gila dengan mengatakan, "Gila itu cendol enak banget ada cokelatnya, ada susunya, harus coba itu enak banget!" lalu Danu pun pergi setelah berteriak-teriak.

Dalam 1-2 minggu kemudian, orang-orang banyak yang datang dan berkata, "Kemarin ada yang teriak-teriak kayak orang gila katanya enak"

Begitulah cara Danu membuat outletnya menarik hingga hari ini.

Namun, saat baru 2 tahun berjalan, Danu sempat terlena karena ia memiliki banyak uang dan membuka banyak mitra Radja Cendol ini. Hingga suatu hari, Danu pun kehilangan uang Rp800 juta karena harus membayar supplier cendol dan pengeluaran lainnya, bahkan ongkos kirim pun Danu yang menanggung hingga karyawannya menjuluki bisnis ini sebagai yayasan.

Dari situ, Danu sadar bahwa bisnis itu tak bisa menggunakan perasaan dan rasa tidak tegaan. Bisnis itu harus profesional. Kalau memang ingin melakukan kebaikan, Danu mengungkap harus beramal, bukan dalam bisnis. Lalu, ketika diaudit, Danu kaget sekali ia telah kehilangan miliaran rupiah.

Akhirnya, Danu pun restrukturisasi agar kesalahan loss seperti itu tak terjadi lagi. Dari kesalahan itu, Danu mengingatkan pentingnya membangun pondasi dan struktur manajemen perusahaan. Jika sudah untung, pastikan manajerialnya juga baik, barulah ekspansi dan memperbesar bisnis. Setelah itu, Danu pun merekrut konsultan dan memperbaiki manajemen perusahaannya.

Adapun formula hidup yang dipercaya Danu adalah attitude harus dijaga, jangan sampai uang membuang karakter baik yang dimiliki karena ada uang ataupun tidak, karakter harus tetap baik. Lalu investasi, Danu mengatakan sejak ia masih susah, ia bahkan sampai rela kredit logam mulia. Ia bahkan rela tidak makan demi memiliki 10gram emas logam mulia yang ia kredit dalam waktu tahunan.

Selain itu, Danu juga melakukan 4 disiplin dalam hidupnya yakni disiplin diri, disiplin waktu agar tidak pernah telat karena prinsipnya lebih baik menunggu daripada harus terlambat, lalu disiplin finansial agar tidak mencampurkan uang pribadi dengan uang bisnis dan terakhir disiplin spiritual karena doa juga harus sekencang usaha.

Tag: Danu Sofwan, Rico Huang, Bisnis

Penulis/Editor: Fajria Anindya Utami

Foto: YouTube/Rico Huang