Kamis, 04 Maret 2021 Portal Berita Entrepreneur

Kisah dr Tirta, dari Penjual Gorengan hingga Miliki Bisnis 47 Cabang

Foto Berita Kisah dr Tirta, dari Penjual Gorengan hingga Miliki Bisnis 47 Cabang
WE Entrepreneur, Jakarta -

Rico Huang menggandeng dr Tirta dalam kanal YouTube-nya untuk membagikan rahasia bisnisnya. Video dengan bertajuk "Dulu Penjual Gorengan Sekarang Dokter & Punya Bisnis Cuci Sepatu 47 Cabang" ini berhasil membuat banyak penonton terpukau.

Pasalnya, hanya dengan menjual gorengan, dr Tirta berhasil meraup omzet Rp16,5 juta. Saat itu tahun 2008 dan dr Tirta masih berkuliah jurusan kedokteran di Universitas Gadjah Mada. Saat masih berkuliah semester satu, dr Tirta mulai berdagang gorengan. 

Hal ini karena teman-teman dr Tirta mendoktrin bahwa perjalanan untuk menjadi dokter itu panjang, jadi tidak bisa mengharapkan uang dari profesi dokter itu sendiri. Terlebih lagi, tujuan utama dokter adalah untuk menolong orang.

Baca Juga: Rico Huang Bagikan Cara Bebas Finansial Hanya dalam 5 Tahun! Kok Bisa?

Karena itulah dr Tirta memutuskan untuk berbisnis. Ia tak bisa menunggu jalan panjang untuk bisa menjadi dokter spesialis. Selain itu, dr Tirta memulai bisnis juga karena ia ingin membeli sepatu. Ia adalah penggemar sepatu sejak masih SMA.

Karena harga sepatu yang diinginkan dr Tirta mahal, akhirnya orang tua dr Tirta hanya mampu membelikan sepatu lokal Warrior dan Compass. Hingga akhirnya, dr Tirta pun berdagang gorengan Rp400 perak. Hal ini karena dr Tirta melihat mahasiswa lainnya pasti lapar karena kuliah jam 7 pagi sehingga orang-orang tak sempat sarapan.

Meski sempat dicibir teman-temannya karena berjualan, pendapatan dr Tirta dari menjual gorengan selama 3 bulan mencapai Rp16,5 jutaan di tahun 2008.

Setelah berjualan, dr Tirta masuk organisasi karena dianggap lihai menarik opini. Lalu, ia pun mengajukan diri sebagai Senat dan lolos. Di organisasi, dr Tirta semakin mengenal banyak orang dan sharing soal pengalamannya jualan gorengan. Hingga suatu hari, teman-temannya justru jadi ikut berjualan gorengan dan perang harga dengannya.

Setelah itu, dr Tirta juga menjual barang-barang yang 'musiman' seperti Power Balance dan Jam Monol warna-warni. Perjuangan dr Tirta untuk berjualan tentu gak mudah. dr Tirta harus membeli ke Tanah Abang, ITC Mangga Dua Jakarta dan tetap berjualan di kampus UGM dengan mobil sewaan hingga diusir oleh satpam. Tetapi, dr Tirta tetap nekat berjualan di depan kampus meski ditegur.

"Ini tanah rakyat, di dalam tanah kampus," ujar dr Tirta membuat satpam kampus tak mampu berkata-kata.

Lebih lanjut, dr Tirta mengatakan kepada Rico Huang bahwa ia menyukai bisnis yang ia jalani, yaitu bisnis cuci sepatu. Binis ini menjadi turning point dalam hidup dr Tirta yaitu ia bangkrut sampai hanya tersisa sepatu-sepatu bekas.

dr Tirta pun kemudian mencuci sepatu tersebut dan memposting foto before-after sepatu yang ia cuci di Twitter hingga di retweet oleh akun besar seperti @JogjaUpdate dan @detikcom. Dari situlah awal mula bisnis cuci sepatu dr Tirta, Shoes and Care. Saat ini, Shoes and Care sudah memiliki 47 cabang di 22 kota Indonesia dan bukan franchise.

Setelah Shoes and Care, dr Tirta memiliki banyak uang yang ia alihkan ke aset. Lalu, dr Tirta membuat Communion Management yaitu distributor sepatu dan juga membuat event sepatu bernama Solevacation.

Tak berhenti sampai disitu, dr Tirta juga memiliki platform titip jual. Semua keuntungan bisnisnya pun bisa ia belikan kendaraan mewah seperti Ducati, Harley, dan lain sebagainya.

Namun, setelah dr Tirta memiliki itu semua, ia merasa kosong. Ia merasa bersalah karena memiliki barang-barang mewah sementara kesejahteraan karyawannya belum sepadan. Akhirnya, dr Tirta pun menjual itu semua dan membentuk startup dengan anak Presiden Joko Widodo (Jokowi) Gibran Rakabuming Raka.

Tetapi, dr Tirta masih belum puas hingga ia pun membuat gerakan Local Pride agar orang-orang membeli sepatu lokal dan bisa mencuci sepatu di tokonya, Shoes and Care. Sayangnya, kampanye ini justru salah arah. Namun, dr Tirta tetap melanjutkan agar menjadi social impact yang bisa ia berikan.

dr Tirta berharap agar orang-orang membeli sepatu lokal dan bisa berdiri di atas kaki sendiri, jangan malah dikuasai oleh sepatu luar.

Akhirnya, brand lokal pun melirik dr Tirta mengirim sepatu-sepatunya, hingga dr Tirta mendatangi pabrik sepatu lokal tersebut. Alhasil, perekonomian sepatu lokal pun menggeliat. Dan dr Tirta mengklaim tak dibayar untuk itu.

Sejak tahun 2015 dr Tirta sudah akrab dengan media. Ia mengakui bahwa media itu tidak akan mati alias abadi. Baik media, iklan, pemasaran, merupakan ranah bisnis yang tak akan mati meski medianya berbeda dari zaman ke zaman. Seperti brosur, radio, hingga hari ini digital media.

Karena itulah dr Tirta berpikir, ia tak akan bisa apa-apa tanpa media karena media itu framing. Diawali pada tahun 2014, dr Tirta membuat event dan orang-orang pun datang hingga bisnis Shoes and Care milik dr Tirta pun viral.

Setelah itu, wartawan datang bertanya bagaimana cara kerjanya. dr Tirta diwawancara di rukonya yang merupakan bekas kandang burung dan ia bercerita bagaimana media senang mengangkat kisah dr Tirta karena ramai dibaca oleh pembaca.

Lewat itulah, dr Tirta mulai terkenal di koran, majalah, hingga tokoh besar. Sampai suatu hari, Gibran, anak Jokowi, menghubungi dr Tirta bertanya-tanya soal produk lokal. Gibran saat itu ingin membeli jaket untuk Jokowi dari produk lokal. Gibran pun mulai ikut andil dalam pergerakkan Local Pride.

Perjalanan dr Tirta mengantarkan brand lokal pun membawa hingga seterkenal sekarang. dr Tirta mengenalkan Gibran ke teman-temannya yang berbisnis brand lokal bahkan ada yang sampai ditelepon ajudan Jokowi untuk diantar langsung ke istana.

Hingga suatu hari, dr Tirta pun dipanggil Sandiaga Uno untuk membahas soal brand lokal. dr. Tirta langsung masuk ke dalam vlog Sandiaga Uno dan Sandiaga Uno juga beberapa kali bertanya soal baju dan sepatu apa yang seharusnya dipakai dari local brand tersebut.

Setelah itu, Sandiaga Uno pun tampil ke dalam acara Mata Najwa dan membuat dr Tirta langsung dihubungi Najwa Shihab. Hal itu membuat geliat produk lokal semakin digemari masyarakat. Sepatu brand lokal Compass pun viral hingga brand lokal fesyen TAKA. Mulai dari situlah, dr Tirta semakin dikenal dan diliput media.

Rico Huang mengatakan bahwa tangan dr Tirta dari berjualan gorengan membawa berkah bagi banyak brand lokal.

dr Tirta pun mengatakan untuk mendapat restu orang tua dalam berbisnis itu baru bisa ia dapatkan pada tahun 2015. Meski ia seorang dokter, dr Tirta tidak ingin membuka praktek. Sementara saat itu, orang tua dr Tirta menginginkan agar anaknya mengambil spesialis. Ditambah lagi, bisnis-bisnis dr Tirta tidak ada hubungan dengan profesinya.

Meski orang tuanya sempat marah, tetapi restu orang tuanya pun semakin mengalir, terlebih saat dr Tirta berhasil bertemu Presiden Jokowi.

Tag: dr Tirta, Kisah Sukses

Penulis/Editor: Fajria Anindya Utami

Foto: Instagram/dr.tirta