Sabtu, 06 Maret 2021 Portal Berita Entrepreneur

Kisah Orang Terkaya: Roman Abramovich, Anak Yatim yang Sukseskan Chelsea

Foto Berita Kisah Orang Terkaya: Roman Abramovich, Anak Yatim yang Sukseskan Chelsea
WE Entrepreneur, Jakarta -

Nama Roman Abramovich terkenal di jagat sepak bola. Ialah salah satu orang terkaya di Rusia yang dianggap sebagai salah seorang oligarki Rusia. Di Rusia, Abramovich pernah menjadi gubernur provinsi Chukotka pada tahun 2000. Sementara di luar Rusia, ia terkenal sebagai pemilik klub sepakbola Premier League, Chelsea.

Forbes mencatat, harta kekayaan pemilik nama asli Roman Abramovich Arkadyevich ini mencapai USD13,8 miliar atau setara dengan Rp192 triliun.

Baca Juga: Kisah Orang Terkaya: Peter Woo, Miliarder Hong Kong Berkat Perusahaan Mertua

Pria kelahiran 24 Oktober tahun 1966 dari sebuah keluarga Yahudi di Lithuania ini telah menjadi yatim piatu sejak kecil. Ibunya, Irina Abramovich Ostrowski, meninggal sebelum Abramovich berumur dua tahun. Ayahnya, Arkady Abramovich, tewas dalam kecelakaan konstruksi kurang dari dua tahun kemudian.

Setelah itu, Abramovich dibesarkan oleh kakek dari pihak ayah dalam iklim Arktik yang dingin dari kampung halaman mereka di Lithuania.

Meski demikian, Abramovich berhasil menempuh pendidikan tinggi hingga bersekolah di Institut Industri di kota Ukhta sebelum mengikuti wajib militer pada Angkatan Bersenjata Uni Soviet.

Setelah mengikuti wajib militer, ia sempat berkuliah sebentar di Institut Auto Transport Negeri di Moskow sebelum mengambil cuti untuk berbisnis. Ia akhirnya mendapatkan gelar dari Akademi Hukum Negeri Moskow dengan sistem pembelajaran jarak jauh.

Pada tahun 1980-an, Abramovich beruntung dengan kebijakan Rusia karena membuka beberapa reformasi bisnis dan pajak besar di akhir 80-an ketika dia akan memulai usahanya. Dengan uang yang ia simpan, ia pun mendirikan perusahaan pembuat mainan plastik bernama "Uyut" dan mulai menjual mainan dengan keuntungan kecil dari apartemen kecilnya.

Meski hanya mendapatkan untung yang kecil, tetapi Abramovich sudah banyak belajar sehingga keterampilan bisnisnya terasah. Setelah beberapa tahun, akhirnya ia pun beralih ke hal-hal yang lebih besar.

Sejak 1992, Abramovich pun sukses berinvestasi dalam industri yang tepat. Kebanyakan ia membeli perusahaan kemudian dijual kembali untuk mendapat keuntungan. Lalu, ia pun fokus pada perusahaan-perusahaan minyak.

Hingga pada tahun 1995, Abramovich bertemu dengan Boris Berezovsky. Keduanya sepakat bermitra untuk menjadi pemegang saham pengendali di perusahaan minyak Sibneft dengan nilai USD100 juta.

Selama Abramovich menjadi salah satu pemilik Sibneft, kekayaan bersihnya pun langsung melonjak. Ia bahkan dapat menghasilkan laba jutaan dolar. Hingga pada tahun 2000, rekannya Boris meninggalkan Rusia karena dituduh penipuan, ia pun menjual seluruh sahamnya ke Abramovich.

Setelah sukses besar dengan Sibneft, ia mulai tertarik dengan industri aluminium Rusia yang dikenal sebagai sektor yang sangat menguntungkan. Pada masa itu, terjadilah perang aluminium hingga beberapa pembunuhan pun terjadi demi akuisisi. Dan Abramovich muncul sebagai satu-satunya pemenang dalam 'Perang Alumunium' Rusia.

Pada tahun 2003, Abramovich semakin terkenal lagi usai membeli klub sepak bola Inggris "Chelsea", yang pada saat itu berada di ambang kehancuran. Ia membayar utang klub Chelsea dan mengubah tim hingga menandatangani kontrak jutaan dolar dengan pemain sepak bola paling bergengsi.

Abramovich ditaksir menginvestasikan 150 juta poundsterling untuk pengembangan klub. Sayangnya, hal ini justru membawa kritik pers Rusia karena ia mengembangkan olahraga asing.

Menurut rumor, sebelum membeli Chelsea", Abramovich telah berupaya untuk membeli klub Moskow "CSKA". Sayangnya, tidak berhasil.

Selain itu, Abramovich juga pernah berinvestasi dalam aplikasi musik Music Messenger Israel dengan menggelontorkan USD30 juta serta bermitra dengan musisi seperti Nicki Minaj dan David Guetta. Tak aneh hartanya kini melambung ya!

Tag: Roman Abramovich, Kisah Orang Terkaya, Rusia, Chelsea Football Club

Penulis/Editor: Fajria Anindya Utami

Foto: (Foto: AFP)