Kamis, 26 November 2020 Portal Berita Entrepreneur

KOL Stories X Sunil Tolani: Mau Sukses, Tapi Gak Siap Sukses

Foto Berita KOL Stories X Sunil Tolani: Mau Sukses, Tapi Gak Siap Sukses
WE Entrepreneur, Jakarta -

Meraih kesuksesan menjadi harapan banyak orang. Menjadi seorang yang sukses berarti memiliki kehidupan yang sejahtera, mapan, dan sudah siap menghadapi dinamika yang akan terjadi. Kesuksesan selalu diibaratkan dengan kepemilikan materi yang berlebih, sehingga bisa mendapatkan apa saja yang kita mau.

Kebanyakan orang bermimpi bisa mendapatkan kesuksesan. Hal itu juga berlaku pada generasi milenial yang saat ini dinilai memainkan peranan penting dalam roda perekonomian bangsa. Namun, banyak orang yang terjebak dalam kondisi psikologis yang menganggap dirinya sudah meraih "sukses", padahal belum sama sekali melangkah ke puncak kesuksesan. 

Selain itu, banyak orang juga ingin mendapatkan kesuksesan dalam waktu singkat, namun tidak dibarengi dengan kerja keras serta effort yang lebih. Jadi, bagaimana caranya untuk bisa meraih kesuksesan serta diimbangi dengan persiapan yang matang dalam meraih sukses?

Baca Juga: KOL Stories x Yohanes G Pauly: Membangun Bisnis Sukses Profitable and Auto Pilot

Pada kesempatan ini, Warta Ekonomi melalui program Key Opinion Leader (KOL) Stories akan membahas topik bagaimana caranya generasi milenial bisa mendapatkan kesuksesan melalui mindset yang layak agar bisa menjadi sukses.

Berikut adalah ringkasan wawancara dengan Sunil Tolani bersama jurnalis Warta Ekonomi, Annisa Nurfitriani yang berjudul Mind Hacking: Mau Sukses, Tapi Gak Siap Sukses.

Bagaimana tanggapan Bapak terhadap cara pandang generasi milenial di Indonesia dalam memandang pencapaian kesuksesan?

Dalam perspektif saya, terdapat dua angle dalam memandang sukses. Secara global, cara dalam memandang kesuksesan dibagi beberapa macam, seperti work & life balance yang mencapai 15-16 persen, dan opportunity yang dinilai sebagai sesuatu yang progresif sekitar 40 persen. Di luar itu terdapat aspek flexibility yaitu menjalani hidup atau bekerja secara fleksibel. 

Tapi, yang menjadi masalah adalah mindset sukses secara lokal. Banyak orang yang ingin sukses dengan cara yang instan. Namun, yang menjadi masalah adalah banyak yang sudah merasa sukses, kemudian secara psikologis menjadi sukses. Padahal seharusnya dibalik, sukses dulu baru bisa merasa sukses. Itu tadi pandangan saya.

Menurut Bapak, apa potensi dari generasi milennial yang belum dioptimalkan dengan baik?

Menurut saya kelebihan dari generasi milenial di Indonesia adalah tingkat kemapanan rasionalitasnya baik, namun kemapanan emosionalitasnya buruk. Cara berpikirnya bagus, tapi tidak diimbangi dengan endurance atau daya tahan emosionalnya rendah, sehingga itulah yang perlu dioptimalkan dan dipertajam. Kalau mau buka usaha ada risiko untuk gagal, begitu pula dengan bekerja juga jangan takut untuk mendapat gaji yang rendah.

Bagi generasi milenial, bagaimana cara meningkatkan daya tahan atau endurance serta apa mindset yang harus ditanamkan untuk menjadi sukses?

Analoginya seperti ini, saat masih kecil dan belajar sepeda lalu terjatuh, pasti nangis karena ketakutan. Jika minggu depannya jatuh lagi, tetap nangis namun sudah tidak sehisteris sebelumnya. Begitupun setelahnya, hingga sudah terbiasa dan tidak perlu untuk menangis lagi. Tergantung dari tingkat kecelakaannya.

Bagaimana cara meningkatkan daya tahan atau endurance? Semakin sering gagal, maka semakin menjadi kuat karena sudah pasti gagal kalau tidak melakukan apa-apa. Namun, jika kita tetap melangkah, faktor yang membuat gagal bukan dari diri kita, melainkan caranya. Tetapi, apa yang membuat orang ingin mencoba kembali? Karena dia tahu tujuannya mau menjadi apa dan mau ke arah mana. Karena tanpa itu, dia akan menjadi mahkluk yang tidak berprinsip dan tidak bisa mengontrol emosinya.

Bagaimana caranya menerapkan mindsdet untuk mengetahui tujuan dan seperti apa langkah-langkahnya yang bisa dilakukan?

Kita harus tetap menjalani pekerjaan dan mengetahui tujuan kita. Dalam prosesnya, terkadang kita harus mengambil keputusan yang tidak healthy bagi bisnis dan diri kita karena kondisi tertentu. Tapi kalau sudah masuk ke ranah melatih mental, kita perlu untuk melakukan journaling atau mencatat semua kegiatan atau proses dalam meraih tujuan kita, juga melakukan follow-up terhadap diri kita sendiri. Kita sebagai orang Indonesia jarang melakukan follow-up pada diri kita sendiri karena kita terlalu mudah untuk ter-distract. Jadi, kita perlu melatih supaya selalu fokus. 

Apakah prinsip "work harder and go the extra mile" masih relevan dengan generasi milenial di Indonesia?

Kalau di negara lain, untuk tetap unggul, kita harus memiliki banyak aspek, yaitu aspek ilmu, aspek motivasi, aspek kompetensi, aspek pengalaman dan harus dilakukan secara ekstra.

Namun, di Indonesia itu simpel, kita tidak perlu kompetensi yang tinggi tapi tetap disiplin, on-time, dan polite karena banyak orang Indonesia yang pemalas, sehingga aspek seperti kompetensi dan personal branding yang baik merupakan nilai lebih yang harus dimiliki. Sebelumnya, kita harus mengetahui terlebih dahulu strategi seperti kita mau menjadi seperti apa.

Apa saja yang perlu dipersiapkan ketika kita menjadi sukses, supaya tidak mudah jatuh?

Itu kembali lagi, mengapa kamu menjadi lemah? Karena secara emosional, kamu tidak kuat. Secara emosional juga tidak selaras antara pikiran, perasaan, dan tindakan. 

Menurut Bapak, banyak orang Indonesia yang malas dan hanya mau sukses tanpa kerja keras. Selain itu, apa kesalahan dan kelemahan yang sering dilakukan dalam mencapai sukses?

Sebenarnya bukan kelemahan, namun persiapan. Selain itu, faktornya bermacam-macam. Definisi sukses juga beragam untuk setiap orang, seperti ada orang yang sudah merasa sukses karena sudah membanggakan orang tuanya lulus dengan IPK tertinggi atau cumlaude. Setelah dia berkeluarga, mungkin sukses bagi dirinya adalah di saat dia sudah bisa memberikan nafkah yang cukup atau bisa menyekolahkan anaknya di tempat yang baik. Ada juga orang yang berpikir sukses saat sudah memiliki mobil mewah, traveling keliling dunia, membuat perusahaan sehingga bisa membuka lapangan pekerjaan.

Itu adalah konsep sukses yang bervariasi. Tapi, di setiap langkah menuju sukses, kita juga harus siap untuk gagal. Kita biasanya terjebak dalam labelling dari banyak orang karena definisi sukses yang berbeda, tapi kita lupa bertanya pada diri sendiri apakah kita low risk taker, moderate risk taker, atau high risk taker.

Di saat kita sudah merasa gagal menjadi seorang yang sukses, bagaimana caranya kita bangkit dari kegagalan agar tidak terjatuh di lubang yang sama?

Di saat kita bersepeda ke perumahaan sebelah lalu jatuh, pertanyaannya adalah apakah kita akan menunggu di situ atau pulang ke rumah? Kalau jawabannya pulang ke rumah, maka kamu sudah tahu tujuan kamu. Jika kamu bersepeda lagi ke tempat yang sama lalu jatuh, kamu sudah mengetahui caranya kalau sebelumnya kamu mencatat kenapa tadi bisa terjatuh. Setelah kita melakukan mapping setelah gagal, kamu jadi lebih mengerti dan setelah itu akan sadar untuk tidak mengulanginya lagi. 

Tapi, apa yang terjadi jika kesalahan tersebut selalu berulang? Karena kita itu ignore dan tidak belajar dari kesalahan tadi, dan itu menjadi pola. Kita harus tahu tujuan. Kalau tidak, kita tidak akan bangkit.

Pandemi membuat banyak tempat usaha tutup. Menurut Bapak, bagaimana cara pandang terbaik khususnya generasi milenial dalam menghadapi pandemi?

Jangan melebih-lebihkan kata gagal. Ada dua faktor kegagalan. Pertama, gagal karena tidak bisa me-manage dengan baik dan memiliki turunan seperti kompetensi yang kurang bagus, leadership yang kurang, serta konsistensi dan komitmen yang kurang baik. Kedua, faktor yang memengaruhi adalah force major karena terjadi bukan hanya Indonesia, melainkan di seluruh dunia. 

Mengapa kemarin dilakukan lock-down? Karena untuk mencegah penyebaran virus, sehingga berimbas pada perekonomian. Banyak bisnis baru yang kolaps. Tapi, kalau dia punya jiwa entrepreneur yang kuat, dia akan switch cara dia berbisnis dan pada akhirnya akan bangkit kembali. Jadi, kita harus mengetahui cara dalam mengadopsi. Yang membuat kita malas adalah mengubah cara. Kita perlu mengubah kebiasaan atau cara demi mencapai tujuan.   

Menjadi sukses itu harus siap menjadi sendiri karena akan diragukan banyak orang. Jadi, harus dipersiapkan.

Menurut Bapak, puncak kesuksesan dari seorang Sunil Tolani seperti apa dan bagaimana caranya untuk mencapai kesuksesan?

Saya belum mencapai puncak kesuksesan. Tapi, saya punya misi. Kalau misi saya telah tercapai, mungkin saya sudah mencapai puncak kesuksesan. Misi saya adalah mentransformasi satu juta orang di Indonesia agar menjadi pribadi yang unggul dan pengusaha yang hebat. Itu adalah inisiasi mindset merdeka yang saya bangun. Tapi, kalau turning point kapan saya merasa sukses, yaitu di saat saya mengetahui tujuan hidup selaras dengan pekerjaan saya.

Apa yang membuat Bapak bisa memiliki tujuan dan berjalan hingga bisa mencapai tujuan tersebut?

Kembali lagi, saya perlu bertanya pada diri sendiri terlebih dahulu, kamu itu siapa, mau jadi apa, mau bantu siapa, itu perlu dijawab terlebih dahulu. 

Tag: Sunil Tolani, Kisah Sukses, KOL Stories

Penulis: Patrick Trusto Jati Wibowo

Editor: Rosmayanti

Foto: Sufri Yuliardi