Kamis, 26 November 2020 Portal Berita Entrepreneur

Dosen IPB Bocorkan Tips UMKM Bangkit dari Pandemi Covid-19

Foto Berita Dosen IPB Bocorkan Tips UMKM Bangkit dari Pandemi Covid-19
WE Entrepreneur, Jakarta -

Situasi pandemi telah melemahkan ekonomi. Bukan hanya perusahaan besar yang terdampak, krisis juga terjadi pada UMKM. Bahkan UMKM termasuk yang paling terpukul. Meski begitu, bukan berarti UMKM harus berpasrah dan menyerah pada keadaan. UMKM bukan hanya harus mampu bertahan, tapi juga harus mampu untuk bangkit. Apa yang harus dilakukan oleh UMKM untuk bangkit?

Dosen IPB University dari Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi Manajemen, Mukhamad Najib mengatakan bahwa dengan perkembangan situasi yang ada saat ini, UMKM berpeluang untuk bangkit dari krisis. Menurutnya, ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh UMKM untuk bangkit dan keluar dari krisis akibat pandemi Covid-19.

Pertama, UMKM harus segera atur ulang pengeluaran dan alokasi biaya-biayanya agar lebih efisien. Saat krisis, cash flow adalah kunci. Agar bisnis tidak mati diserang krisis, cash flow harus bisa dijaga.

Baca Juga: Dukung UMKM, Bea Cukai Soekarno Hatta Tilik Pesona Batik Banten

Salah satunya dengan mengatur ulang pengeluaran dan alokasi biaya. Ia juga menyarankan agar UMKM bisa melihat kembali semua pengeluarannya, dan menentukan prioritas pengeluaran lebih ketat lagi.

Kedua, pemilik UMKM harus bisa menjaga kekompakan dan semangat tim untuk bisa bangkit dari krisis secara bersama. Dalam situasi ini, menurut Najib, UMKM perlu mengupayakan agar tidak ada pemecatan karena hal itu justru akan melemahkan semangat bersama. Hal ini menurutnya bisa berakibat fatal bagi bisnis.

"Saat krisis, kita justru membutuhkan kerja tim yang lebih tinggi lagi agar bisa bertahan dan keluar dari krisis. Pengelola UMKM harus bisa membangun loyalitas karyawan di masa krisis agar mereka bisa memahami situasi ini dengan baik dan mau bersama-sama berjuang untuk keluar dari krisis," tutur Najib.

Jika hal tersebut bisa dilakukan, maka langkah berikutnya adalah secara cermat mengenali kebutuhan konsumen yang berubah di masa pandemi.

Tentu banyak perubahan dari sisi perilaku konsumen. Perubahan itu bisa mencakup kebutuhan akan produk maupun layanan. Contohnya, saat ini konsumen lebih peduli dengan kesehatan. Sehingga, produk yang mengaitkan pada kesehatan akan lebih diminati.

Selain itu juga, dari sisi layanan, konsumen saat ini lebih memilih yang less contact, termasuk dalam sistem pembayaran. Sehingga UMKM juga harus bisa cepat beradaptasi dengan situasi ini.

Najib berpendapat bahwa UMKM perlu menyesuaikan produk dan layanannya sesuai dengan kebutuhan konsumen. Bagaimanapun, konsumen menjadi penentu dari keberlanjutan bisnis UMKM. Oleh karenanya, penting bagi UMKM untuk beradaptasi dengan kebutuhan konsumen yang berubah.

Terakhir, UMKM perlu memaksimalkan pemanfaatan teknologi digital, baik sebagai sistem pembayaran maupun alat untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Baca Juga: Program Diskon PLN untuk UMKM & IKM Diperpanjang hingga...

Menurut Najib, saat ini, mau tidak mau UMKM harus bisa menyesuaikan diri dengan dunia digital. Konsumen, terlebih konsumen milenial, saat ini lebih nyaman melakukan transaksi cashless dan mereka sehari-hari bersama internet. Sehingga, pemasaran digital lebih efektif untuk menjangkau mereka.

"Saya berharap UMKM bisa segera bangkit dan keluar dari krisis sehingga ekonomi nasional juga bisa tumbuh positif kembali. Saat ini pemerintah sudah memberikan banyak program pemulihan ekonomi yang ditujukan kepada UMKM. Sekarang tinggal bagaimana UMKM bisa menyambut program pemerintah tersebut dengan baik. Sehingga UMKM tidak hanya sekadar bisa keluar dari krisisi ini, tapi bisa lebih maju lagi selepas pandemi ini," imbuhnya.

Tag: Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Institut Pertanian Bogor (IPB), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)

Penulis: ***

Editor: Rosmayanti

Foto: Antara/Basri Marzuki