Minggu, 12 Juli 2020 Portal Berita Entrepreneur

Yohanes G Pauly, Lahir dari Keluarga Miskin Jadi Business Coach

Foto Berita Yohanes G Pauly, Lahir dari Keluarga Miskin Jadi Business Coach
WE Entrepreneur, Jakarta -

Business coach merupakan sosok penting dalam bisnis. Banyak entrepreneur dan orang sukses di dunia yang memiliki business coach untuk membantu mereka mengembangkan keahlian dan keterampilan sehingga bisnis mereka bisa sukses.

Tahukah Anda bahwa ternyata Indonesia juga memiliki business coach terkenal yang telah membantu ratusan entrepreneur dan berhasil menyabet penghargaan tingkat dunia? Sosok tersebut adalah Yohanes G Pauly, yang meraih Peringkat Nomor 1 Business Coach Terbaik di Top 100 Business Coach in the World.

Yohanes G Pauly, yang memiliki lebih dari 10.000 jam terbang business coaching ini, merupakan sosok yang terkenal di dunia business coaching. Bagaimana perjalanan Yohanes hingga bisa meraih Peringkat Nomor 1 Business Coach Terbaik di Tingkat Dunia?

Baca Juga: Mengenal Swain Mahisa Ardana, Sukses Berbisnis Tekuni Dunia Musik

Yohanes lahir dari keluarga miskin, bahkan salah satu tangannya cacat karena tidak dapat digerakkan. Meskipun kondisi finansial keluarga sangat pas-pasan, orang tuanya berjuang luar biasa untuk menembus dinding kemiskinan.

"Ibaratnya ya seperti paket miskin komplit gitu," ujar Yohanes.

Lahir dari keluarga tak mapan, Yohanes sejak kecil sudah menjadi salesman, door to door untuk membantu bisnis orang tuanya; usaha jasa bengkel las. Dari situlah Ayah dan Ibu Yohanes mengajarkannya untuk selalu berjuang dan tak mudah menyerah.

Turning point dalam hidup Yohanes adalah saat ia masih di Sekolah Dasar (SD). Saat itu ia mendapatkan Nilai Ebtanas Murni (NEM) SD terendah di sekolahnya. NEM terendah menjadi sebuah lecutan, ia mulai giat belajar sehingga mendapat ranking 3 di SMP, lalu ranking 1 di SMA, dan lulus sebagai lulusan terbaik di SMA-nya. Sampai akhirnya Yohanes mendapatkan beasiswa untuk masuk ke universitas bisnis dan akhirnya lulus dengan predikat summa cumlaude sebagai lulusan terbaik dari universitas tersebut.

Yohanes memulai kariernya sebagai Strategic Research Analyst di Astra International. Ia kemudian dipercaya memegang posisi sebagai Brand Manager yang meluncurkan versi anak-anak dari susu Anlene di Fonterra dan mencatat prestasi dengan capaian pangsa pasar sebesar 15% hanya dalam satu tahun sejak diluncurkan.

Yohanes selanjutnya memegang posisi sebagai Senior Brand Manager Ice Cream Wall's dan berhasil meningkatkan penjualan 350% hanya dalam waktu satu tahun. Dia kemudian dipercaya sebagai Regional Brand Manager Fabric Cleaning Rinso untuk Asia Tenggara, juga berhasil meningkatkan pertumbuhan penjualan lima kali lipat dari rata-rata pertumbuhan penjualan tahun sebelumnya.

Posisi selanjutnya yang dipegang oleh Yohanes adalah Senior Brand Manager Pepsodent Oral Care dan berhasil meningkatkan pertumbuhan rata-rata bisnis pasta gigi tersebut dari single digit growth menjadi double digit growth hanya dalam waktu satu tahun.

Ia akhirnya dipercaya menjabat Regional Brand Manager Oral Care untuk Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Turki di Unilever. Karier profesional terakhir Yohanes adalah Marketing Director di Danone Aqua saat usianya masih 32 tahun.

Meskipun mencapai posisi sebagai Marketing Director di usia yang terbilang muda, Yohanes tak bisa mengabaikan panggilan hidupnya menjadi entrepreneur untuk membantu pebisnis lain dengan menjadi business coach yang memiliki ranah yang sama, namun berbeda dengan konsultan bisnis.

Ia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan profesionalnya dan belajar menjadi business coach dari pembicara tingkat dunia, seperti Anthony Robbins (World's Number 1 Success Coach), Robert Kiyosaki (penulis buku Rich Dad Poor Dad), Marshall Goldsmith yang dikenal sebagai World's Number 1 Leadership Thinker, dan banyak tokoh lainnya.

"Business coach tidak sekedar membantu bisnis seseorang, tapi lebih dari itu membantu hidup seseorang. Coba lihat ada berapa banyak entrepreneur yang kerja dari subuh hingga tengah malam, tidak punya waktu untuk keluarga," ujar Yohanes.

 

Yohanes sering diundang menjadi pembicara dalam seminar bisnis yang dihadiri oleh ratusan pemilik bisnis membahas strategi praktis untuk membuat bisnis profitable dan auto-pilot.

Ilmu dan pengalaman yang dimilikinya menjadi daya tarik tersendiri yang membuat pemilik bisnis ikut dalam seminar bisnis yang diisi olehnya. Tak hanya seminar bisnis, dia juga sering mengisi program radio dan televisi membahas strategi bisnis. Yohanes juga ikut mengisi seminar bisnis perusahaan dengan topik membangun super tim di bisnis.

Satu tahun lebih setelah terjun ke dunia business coaching, Yohanes membuktikan kemampuannya dibanding business coach maupun konsultan bisnis lain dengan mencapai Peringkat Nomor 1 Business Coach Terbaik di Top 100 Business Coach in the World.

Beberapa penghargaan tingkat dunia lainnya yang juga pernah diraih Yohanes ialah penghargaan sebagai Business Coach of the Year kategori Asia Pacific Coaches Choice Awards di Australia dan juga Global Coaches Choice Awards di Spanyol.

Baca Juga: Hebat Banget! Milenial Ini Sukses Jual Sepatu Lokal ke Luar Negeri

Yohanes mendapat sertifikasi sebagai Professional Certified Coach (PCC) dari International Coach Federation (ICF), sebuah organisasi coach terbesar dengan sertifikasi coaching global yang dipercaya dan diakui di tingkat dunia dan didukung oleh lebih dari 20.000 coach di dunia.

Tak hanya penghargaan pribadi, Gratyo Practical Business Coaching yang didirikan Yohanes berhasil mencapai peringkat Number 1 Business Coaching Company di Top 10 Business Coaching Firm in the World.

Yohanes beserta Gratyo juga memecahkan rekor dunia untuk Guinness World Records the Largest Practical Business Seminar in the World di acara Indonesia Entrepreneurs Conference. Dia percaya bahwa semua prestasi dan pencapaian dalam hidupnya tak lepas dari berkat andil Tuhan.

"Tuhanlah yang melipatgandakan usaha hidup manusia dan karena anugerah Tuhanlah saya bisa sukses," ujar Yohanes.

Tag: Kisah Sukses, Entrepreneur

Penulis: Agus Aryanto

Editor: Rosmayanti

Foto: Yohanes G Pauly